Di Hadapan Jokowi, Iwan Fals Melupakan “Galang Rambu Anarki”?

0
11
SABTU, 7 JANUARI 2017


Oleh: Thowaf Zuharon

CATATAN KHUSUS — Saudaraku sebangsa dan setanah air yang sedang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo, ketika engkau resah dililit berbagai kenaikan harga kebutuhan hidup pada awal Januari 2017 ini, segeralah laporkan dan merataplah kepada Iwan Fals. Yakinlah, khusus di Negara Indonesia ini, selain engkau meratapkan doa kepada Tuhanmu, hanya Iwan Fals yang bisa mendengar ratapan keluh kesahmu dan menyelesaikan keruwetan hidupmu. 
Thowaf Zuharon.
Engkau sudah mengerti, tentunya, sejak tahun 1970-an, Iwan adalah musisi yang selalu bisa menyuarakan keresahan dan kesengsaraan rakyat Indonesia. Lagu-lagunya selalu bisa menjadi pelampiasan kita atas himpitan situasi. 
Manfaatkanlah ketajaman batin dan empati Iwan Fals terhadap rakyat kecil yang tak pernah lelah memprotes penguasa sejak masa Presiden Soeharto hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rasakanlah letusan nada-nada lagu yang dirangkai Iwan Fals untuk menyerang kebijakan penguasa yang dianggap lalim. Titipkanlah kemarahan dan kekecewaanmu kepada Iwan, atas penguasa yang ingkar janji saat kampanye. 
Hanya Iwan yang bisa mengobati luka hatimu dengan melodi dan liriknya yang selalu tajam menguliti keangkuhan penguasa. Apalagi, Iwan sangat dekat dengan Presiden Joko Widodo sejak masa kampanye Gubernur DKI Jakarta tahun 2012. Iwan pasti bisa menjadi sandaran harapanmu, jika kebijakan pemerintahan Jokowi membuat hidupmu sengsara. 
Mana mungkin engkau bisa berharap kepada wakil rakyat yang dulu dihujat Iwan Fals lewat lagunya. Tidak mungkin engkau bisa berharap kepada berbagai tokoh dan Menteri di sekitar Jokowi, supaya bisa mengingatkan Jokowi agar tidak melenceng ketika menjadi Kepala Negara. Cuma Iwan Fals yang bisa protes dengan tulus dan jujur kepada Presiden dan berbagai pemimpin Indonesia tanpa hambatan psikologis atau hutang budi di masa lalu. 
Jadi, jika engkau kecewa, marah, dan menderita atas kenaikan harga berbagai kebutuhan hidup di Indonesia pada pemerintahan Jokowi, segeralah curahkan kepada Iwan Fals. Pasti Iwan Fals akan marah dan protes keras kepada Jokowi. Minimal, Iwan akan membuat lagu protes baru yang akan menghujat berbagai kebijakan Jokowi yang menyengsarakan rakyat. Sebagaimana Iwan Fals dulu sangat berani untuk menyindir dan memprotes Pemerintahan Presiden Soeharto.  
Dua ratus tujuh puluh juta penduduk Indonesia, segeralah sampaikan kepada Iwan Fals atas kekacauan isi dapurmu pada bulan Januari 2017 ini. Meja makanmu akan lebih sepi dan lebih dingin dari biasanya. Kantong belanjaanmu pasti menipis, karena meroketnya harga cabai di Sorong yang melebihi Rp. 200.000 per kilogramnya, merangkaknya harga bawang putih, bawang merah, beras, minyak goreng, ayam, dan sebagainya. 
Jangan lupa menangislah di depan Iwan Fals atas melonjak tajamnya harga pajak kendaraan bermotor, bahan bakar kendaraan, listrik, hingga harga langganan air PAM yang bisa mencekik dompet dan rekeningmu. Merontalah di depan Iwan, bahwa Bangsa Indonesia bisa mengalami kelaparan seperti lagu “Ethiopia”.
Namun, janganlah sekali-kali engkau khawatirkan kondisi ini, Saudaraku. Karena Iwan Fals akan segera berteriak di depan Istana Negara dengan lantang, melantunkan perih lagu “Manusia Setengah Dewa” yang dirilis pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 
Yakinlah, Saudaraku. Iwan Fals akan memimpin seluruh komunitas Orang Indonesia (OI) yang merupakan basis massa pengidola lagu-lagu Iwan. Jumlah massa OI yang bisa mencapai belasan juta, atau mungkin puluhan juta, tentu akan lebih besar memadati seluruh ruas Jakarta dibanding jumlah peserta Aksi 212. Mereka semua akan merangsek ke Istana Negara di Medan Merdeka Utara, Jakarta. Iwan tidak akan memimpin massa untuk demo anarkis, melainkan akan membuat konser Protes yang membahana semalam suntuk.
Inilah Lagu “Manusia Setengah Dewa” yang akan dilantunkan Iwan untuk Presiden Jokowi;  
Wahai Presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan
Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Reff:
Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Kembali ke: Reff
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini 
Begitu lantang dan garangnya lagu Manusia Setengah Dewa itu, ketika kita dengarkan. Betapa hormatnya kita kepada Presiden Jokowi, ketika ia berkenan memutar lagu ini setiap pagi hari di Istana Negara, sembari sarapan bersama anak dan istrinya? Ataukah sebaiknya, lagu “Manusia Setengah Dewa” ini menjadi lagu wajib yang harus diperdengarkan kepada siapa pun Presiden yang sedang memimpin Indonesia? Jika Presiden Jokowi bisa memenuhi harapan lirik Iwan Fals, tentu Iwan akan menjuluki Jokowi sebagai Manusia Setengah Dewa.  
Namun, entah kenapa, sejak Jokowi menjadi Presiden, kita kehilangan sisi kritis dan protes dari Iwan Fals. Kita belum pernah mendengar Iwan melontarkan kritik tajam kepada Presiden Jokowi. Padahal, pada berbagai kebijakan, rakyat banyak merasa disengsarakan. 
Jujurlah saja, engkau pasti merindukan Iwan yang selalu “protes sosial”, seperti dulu. Engkau tentu tidak terlalu bahagia ketika disapa Iwan di televisi yang menjadi bintang iklan produk kopi. Serasa bukan Iwan Fals ketika tidak melakukan protes dan perlawanan. Bukan Iwan Fals kalau tampil sebagai pembela sebuah Rezim yang dianggap lalim.    
Diakui Iwan Fals ataupun tidak, ia telanjur menjadi ikon penghantam kekuasaan lalim dengan lagu “Bongkar”, “Bento”, “Surat Buat Wakil Rakyat”, “Oemar Bakri”, “Rekening Gendut”, “Politik Uang”, “Dunia Politik (Asik Nggak Asik)”, “Robot Bernyawa”, “Rubah”, “Bangsat”, “Untukmu Negeri”, “Tikus-Tikus Kantor”, “Negara”, “Manusia Setengah Dewa”, “Galang Rambu Anarki”, dan sebagainya. 
Jika hendak dibedah secara ideologis, lagu-lagu Iwan banyak menggelorakan semangat “Sosialis Radikal”. Iwan selalu gelisah dan meninju ketidakadilan dengan dementing nada. Maka, sangat mengherankan, ketika situasi negeri ini dianggap oleh mayoritas kelompok masyarakat sebagai pemerintahan kacau balau di bidang apa pun, Iwan Fals justru banyak diam dan tersenyum di tengah penderitaan rakyat. 
Protes masyarakat melalui media sosial, kini jauh lebih sarat kritik sosial tajam dibanding lagu-lagu Iwan Fals. Ataukah Iwan sudah memang kehabisan daya kritis dengan naiknya Jokowi sebagai Presiden? Ketika Pancasila dihina oleh Australia, ketika indikasi invasi buruh-buruh Republik Rakyat China banyak merangsek ke Indonesia, ketika jurang kaya dan miskin semakin menganga, ketika kondisi Pemerintahan Daerah dikangkangi oleh Dinasti Keluarga Konglomerat Ahli Patgulipat, kita menjadi bertanya, di mana suara Iwan Fals? Atau, ketika Iwan sudah tidak berani kritis, apakah sebaiknya kita ganti saja julukan Iwan Fals menjadi Iwan Merdu saja?     
Wahai saudaraku para OI yang setia kepada idola, ketika Iwan hanya diam melihat sebuah pemerintahan yang melenceng dari keadilan, tak bersuara seperti kerbau dicocok hidungnya, kita kehilangan Iwan Fals yang sangat kita banggakan. Iwan Sang Musisi “Sosialis Radikal”, apakah sudah melupakan “Kredo” agung yang dia sematkan kepada anak sulungnya yang telah almarhum? Bukankah Bang Iwan telah telanjur mengabadikan “Galang Rambu Anarki” menjadi nama anak sekaligus judul lagu? 
Di tengah segala harga kebutuhan hidup yang merontokkan seluruh kas keuangan masyarakat Indonesia, ketika kehidupan telah semakin pahit dan chaos, apakah Iwan Fals akan segera mengajak Orang Indonesia (OI) untuk Meng-Galang Rambu dan melakukan Anarki sebelum terselenggaranya Pilkada serentak ini? Entahlah. Yang jelas, si Sulung Galang Rambu Anarki telah tidur tenang di liang lahat. Di tengah semua harga yang meroket pada Januari ini, engkau pasti menunggu Iwan Fals bernyanyi keras lagu ini di depan Istana Negara;  
Galang rambu anarki, anakku
Lahir awal januari menjelang pemilu
Galang rambu anarki dengarlah
Terompet tahun baru menyambutmu
Galang rambu anarki ingatlah
Tangisan pertamamu ditandai bbm
Membumbung tinggi (melambung)
Reff:
Maafkan kedua orangtuamu
Kalau tak mampu beli susu
Bbm naik tinggi
Susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi (anak kami)
Galang rambu anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras, janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu
Betapa perih lagu tersebut, saudaraku. Arwah Galang Rambu Anarki di alam kubur tidak akan rela ayahnya berganti julukan dari Iwan Fals yang selalu bersuara kritis, berubah julukan menjadi Iwan Merdu. 

Thowaf Zuharon adalah penulis ‘Buku Ayat-Ayat yang Disembelih’ dan ‘Mencokok Ahok’

Komentar