Dijemput di Sekolah, Kepsek SDI Wutik Jalani Pemeriksaan di Polres Sikka

0
16

RABU, 11 JANUARI 2017

MAUMERE — Kepala Sekolah SD Inpres Wutik, Desa Koting D, Kecamatan Koting, Kabupaten Sikka, Drs. Susar, Rabu (11/1/2017) siang langsung dijemput anggora Reskrim Polres Sikka di lokasi sekolah yang berjarak sekitar 15 kilometer arah barat kota Maumere.

Kepsek SDI Wutik saat dijemput polisi di sekolahnya.

Saat dijemput, pelaku  sedang berada di ruang kelas melakukan aktivitas mengajar dan setelah diberitahu oleh anggota polisi, pelaku langsung diminta ke ruang kepala sekolah dan diberikan penjelasan. Pelaku terlihat kooperatif dan tidak melakukan perlawanan saat polisi menjelaskan maksud kedatangan tim Reskrim Polres Sikka. Saat ditanyai polisi, apa saja barang yang ingin dibawa, pelaku katakan akan membawa tas sekolah.

Kasat Reskrim Polres Sikka, AKP Andri Setiawan, SH, SIK kepada media di Polres Sikka menjelaskan, setelah meminta keterangan dari orang tua korban dan korban yang datang melapor ke Polres Sikka pihaknya langsung menjemput pelaku di sekolahnya.

Baca juga berita: Diduga Cabul, Oknum Guru Sekolah Dasar di Desa Koting, Sikka, Dilaporkan Polisi

“Kita mengamankan kepala sekolah tersebut dan sekarang masih dalam proses pemeriksaan dan kemungkinan kasus ini akan kita lanjutkan,” ujarnya.

Perkara ini sebut Andri, masuk dalam kasus asusila dengan korbannya anak-anak terkait perbuatan cabul. Korban yang melapor baru empat orang dan kemungkinan akan ada korban lainnya. Pelaku dikenai pasal 82 ayat 2 tentang perlindungan anak.

Untuk sementara, lanjutnya, penyidik masih melakukan penyelidikan dan sudah ada saksi pendukung. Saat ini sedang dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Setelah gelar perkara maka akan dilihat hasilnya apakah statusnya dinaikkan menjadi terdakwa dan ditahan ataukah tidak.

Kasat Reskrim Polres Sikka, AKP Andri Setiawan, SH, SIK.

“Kemungkinan akan kami naikkan menjadi penyidikan dan status pelaku akan kami naikkan menjadi tersangka,” terangnya.

Kristianus Sikka salah satu pelapor yang juga nenek korban saat ditanyai Cendana News mengatakan, pelaku baru dua tahun bertugas di SDI Wutik. Saat awal bertugas pelaku  sangat ramah dan sering menyapa warga dan orang tua murid.

“Pelaku juga terlihat sangat tegas dan disiplin dalam menjalankan tugas dan salah satu korban rumahnya berdekatan dengan pelaku,” terangnya.

Kris membeberkan, sehabis melakukan perbuatan cabul, pelaku selalu memeberi uang kepada para korban sebesar Rp 20 ribu. Dirinya bersama para orang tua merasa kecewa atas perilaku tidak terpuji sang kepala sekolah.

Murid SDI Wutik korban peelecehan seksual kepala sekolah.

“Poilisi harus usut tuntas dan menghukum berat pelaku ini sebab dia sudah merusak masa depan anak cucu kami dan membuat mereka merasa trauma,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary

Komentar