Melacak Jejak Kota Tua Depok (3) Rumah Kapiten yang Nilai Sejarahnya Tinggal Sepotong

0
15

RABU 11 JANUARI 2017

DEPOK—Pada 2014 penduduk Depok mencapai  2.033.508 jiwa. Pertumbuhan penduduk ini mengalami peningkatan dua tahun terakhir disebabkan karena kesiapan Depok untuk menjadi satu kota mandiri yang tidak tergantung dengan kota kota di sekelilingnya. Tersebar banyak tanda modernisasi di sepanjang Jalan Margonda yang terbentang membelah kota Depok. 
Bagian dari Rumah Kapiten di areal Margo City Depok.  Bagian ini termasuk sedikit yang tersisa, namun yang punya nilai sejarah. 
Jalan ini merupakan jalan utama kota Depok dengan segala karakteristiknya, pusat pemerintahan, kantor polisi, rumah sakit, universitas bahkan rumah susun tersebar di sepanjang jalan Margonda, Depok. Hal ini yang menyebabkan satu ritme tersendiri bagi  Depok di mana semua sarana publik berada di satu jalan besar, jalan Margonda.
Tidak hanya itu, di kota Depok juga terdapat jalan Juanda, akses langsung menuju gerbang tol Cimanggis yang dapat menyebabkan kemacetan baik itu hari kerja maupun hari libur. Pada akhir pekan, kemacetan terjadi di jalan Margonda raya. Kemacetan ini lebih sering disebabkan oleh banyaknya kendaraan roda empat yang keluar masuk pusat perbelanjaan, dan mereka yang akan berlibur ke luar kota melalui ruas jalan Juanda. Salah satu pusat perbelanjaan di kota Depok yang juga sering mengakibatkan kemacetan adalah Margo City Mall, ini adalah pusat perbelanjaan terbesar di Kota Depok.
Di balik kemegahan Margo City Depok, ada satu bangunan cagar budaya yang kondisinya tidak kalah memprihatinkan Selasa (11/1) Cendana News mencoba mengunjingi tempat itu. Rumah Kapiten Cina adalah salah satu benda cagar budaya yang dibangun pada pertengahan abad ke-19. Kemudian rumah itu dibeli oleh seorang saudagar Tionghoa bernama Lauw Tek Lock, seiring berjalannya waktu rumah itu diwariskan kepada anaknya yang bernama Kapiten der Cinezen Lauw Tjeng Shiang.
Pada 10 Oktober 1834 terjadi gempa vulkanik akibat meletusnya Gunung Salak, gempa ini banyak menghancurkan banyak bangunan diantaranya Istana Bogor, dan Rumah Kapiten Cina. Pihak pemilik rumah melakukan renovasi pada 1898.
Ratu Farah Diba dari Depok Heritage Community ketika melakukan inventarisasi mendapati hasil bahwa sejak  1866 rumah ini dibeli oleh keluarga Tan, namun seiring berjalannya waktu rumah ini dijual ke pihak swasta yaitu Margo City dan dibuat bangunan dengan nama The Old House Cafe. Ratu menyayangkan penghancuran bagian belakang rumah Kapiten Cina itu.
“Pada 2007, bagian belakang rumah ini sudah dihancurkan oleh pihak Margo City untuk dijadikan Cafe Ola La. Sayang waktu itu pemerintah kota Depok belum mengetahui tentang UU Cagar Budaya, jadi ya tidak ada sanksi. Saat ini yang masih tersisa adalah rumah bagian depan saja. Hingga saat ini bangunan terus direnovasi tanpa memperhatikan kaidah konservasi bangunan bersejarah,” ungkap dia.
Ratu menilai bahwa pembangunan bertahap ini semakin lama membuat bangunan itu kehilangan bentu aslinya. Upaya pemkot Depok memang ada seperti  memasukkan bangunan itu ke daftar benda cagar budaya, selain itu juga ada perjanjian antara pemerintah kota dan pihak mall untuk melestarikan bangunan tersebut.
Hanya saja tambah Ratu, seharusnya masyarakat juga berperan dalam melestarikan Benda Cagar Budaya yaitu tanpa melakukan tindakan vandalisme. “ Sekalipun pemeliharaan dan perawatan menjadi tanggungjawab pihak Margo City,” tuturnya lagi (Selesai)
Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Dokumentasi Ratu Farah Diba

Komentar