Yayasan Damandiri, Teguh Bangkitkan Warga dari Keterpurukan

0
13
OLEH: MIECHELL KOAGOUW

RABU, 11 JANUARI 2017

JAKARTA — CATATAN JURNALIS — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sejak September 2016, awan kelabu menyelimuti wilayah Bukit Duri, Jakarta Selatan. Kelurahan Bukit Duri yang terdiri dari 12 Rukun Warga (RW) dengan masing-masing RW memiliki 12 Rukun Tetangga (RT) seakan pecah berkeping-keping. Warga berserakan dan membutuhkan pertolongan siapa pun yang memang tergerak hatinya untuk menolong mereka. Akan tetapi, mesin-mesin penghancur tetap menjalankan tugas masing-masing untuk terus meratakan sebagian wilayah Bukit Duri yang dianggap memanfaatkan bantaran kali sebagai pemukiman.

Keadaan salah satu wilayah RW 011 Bukit Duri yang terkena
normalisasi Ciliwung.

Rumah-rumah tempat tinggal warga rata dengan tanah, usaha-usaha kreatif mikro milik warga yang sudah puluhan tahun ada musnah. Sebagian Bukit Duri luluh-lantak akibat proyek normalisasi Ciliwung Pemprov DKI Jakarta saat itu. Ekonomi warga lumpuh, anak tidak bisa pergi bersekolah sesuai jadwal dan yang membuat warga semakin sedih adalah satu-persatu sahabat, saudara, dan tetangga pergi meninggalkan Bukit Duri. Ada yang masuk ke Rumah Susun Rawa Bebek Jakarta Timur dan ada pula yang pergi mencari daerah lain untuk menetap. Namun tidak sedikit juga yang memilih tinggal demi memperjuangkan apa yang sudah direnggut paksa dari mereka.

Kedatangan Yayasan Damandiri
Beralih ke belakang pada 2014, ketika itu, Bukit Duri jakarta Selatan khususnya di lingkungan RW 011 kedatangan program pemberdayaan Yayasan Damandiri berupa pembentukan Pos Pemberdayaan Keluarga atau disingkat Posdaya. Tujuannya, menggali potensi-potensi yang ada di masyarakat RW 011 Bukit Duri,  kemudian diberdayakan secara bergotong royong membangun wilayah mereka menjadi lebih baik lagi. Terbentuklah Posdaya Melati 1, RW 011 Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan (Jaksel).

Sejak itu, kegiatan terus berjalan sesuai konsep pemberdayaan yang coba dilakukan Yayasan Damandiri selama ini, yaitu membangun peradaban secara bergotong royong. Dibentuklah kelompok-kelompok kerja yang bersinergi dengan berbagai kegiatan yang sebelumnya sudah ada di lingkungan RW 011, seperti Majelis Taklim, Posyandu Balita (bayi usia lima tahun) dan Lansia (lanjut usia), penghijauan, serta lainnya. Pengurus Posdaya Melati 1 bergandengan dengan warga menggeliat dalam kegiatan-kegiatan yang memberdayakan diri sendiri sekaligus memberdayakan orang lain di sekitarnya.

Aspek lingkungan seperti gerakan penghijauan dan kelompok tani, kesehatan seperti Posyandu balita dan lansia serta aspek Pendidikan seperti TPA coba dikemas oleh masing-masing kelompok untuk kemudian diterapkan kepada masyarakat setempat. Saat semua sudah berjalan dengan semestinya, aspek utama dari Yayasan Damandiri diluncurkan di Posdaya Melati 1 Bukit Duri pada Maret 2015, yakni memberdayakan aspek wirausaha masyarakat dengan Program Simpan Pinjam Tabur Puja atau Tabungan Kredit Pundi Sejahtera.

Sosialisasi tentang Tabur Puja, mekanisme pelaksanaan, aturan yang melindungi anggota sampai apa saja yang didapatkan anggota jika mengikuti Tabur Puja sudah sampai dengan baik kepada masyarakat. Berbondong-bondong warga RW 011 Bukit Duri masuk menjadi anggota Tabur Puja dan menerima pinjaman lunak berjangka yang diberikan, dengan harapan masing-masing anggota memanfaatkan dana tersebut. Sepenuhnya untuk mengembangkan wirausaha kelas mikro atau jenis usaha paling kecil yang mereka inginkan.

Bertaburanlah usaha-usaha kreatif mikro milik masyarakat di seluruh wilayah RW 011, Bukit Duri, Jakarta Selatan. Masyarakat diberdayakan oleh Yayasan Damandiri melalui kredit lunak Tabur Puja untuk menjadi wirausahawan walaupun masih dalam taraf kecil-kecilan. Usaha mereka semua maju, hubungan sosial antar masyarakat terbangun baik, anak-anak sehat dengan Posyandu, para lansia terawat dengan baik dan tatanan peradaban seakan makin sempurna karena masing-masing warga seolah menemukan apa yang mereka butuhkan. Semua berjalan dengan tenang sampai akhirnya September 2016 merubah tatanan yang sudah terbangun sekaligus membentuk awan kelabu bagi warga.

Nasi pecel ayam Sumirah mendadak kehilangan pelanggan, sebagian warga RW 011 dari RT 03 harus pergi membawa usahanya yang berjalan lancar untuk pindah ke rumah susun. Sampai Dahlia yang harus merelakan rumah sekaligus warung usahanya sekaligus rata dengan tanah. Tidak cukup sampai di situ, lansia mulai tidak terkontrol kesehatannya, balita banyak yang terputus pemeriksaannya, gerakan penghijauan kehilangan kader-kader terbaik dan Majelis Taklim sampai kegiatan PKK kehilangan ibu-ibu inspiratif karena pindah ke tempat lain.

Kepercayaan Diri Warga Bukit Duri Kembali Bangkit
Namun, bukan sekeras apa manusia itu menerima pukulan yang menyebabkan ia harus tersungkur. Akan tetapi, sekeras apa pukulan yang membuat manusia tersungkur namun bisa kembali berdiri untuk terus bergerak maju. Prinsip inilah yang tertanam di benak para penggiat Posdaya Melati 1 Bukit Duri, Jakarta Selatan, binaan Yayasan Damandiri. Semua tidak mau menyerah, semua tidak mau pasrah atas keadaan dan semua tidak ingin apa yang sudah dibangun selama ini harus ikut hancur berkeping-keping karena alasan apa pun.

Bersama Yayasan Damandiri, Posdaya Melati 1 menemukan satu cara yang bisa mengembalikan kepercayaan diri masyarakat, yakni membenahi keadaan ekonomi mereka terlebih dahulu. Oleh karena itu, Yayasan Damandiri tetap menjaga keutuhan anggota-anggota Tabur Puja Posdaya Melati 1 sambil terus memberi kesempatan kepada mereka yang tertimpa musibah namun harus kehilangan segalanya. Sumirah terus diberdayakan kewirausahaannya dengan stimulan pinjaman lunak Tabur Puja, Dahlia terus dibangkitkan kepercayaan dirinya dengan mencairkan kembali kredit usaha Tabur Pujanya. Bagi mereka yang masih memiliki keterikatan cicilan namun sudah pindah keluar RW 011 Bukit Duri, terus dirawat dengan cara menenangkan mereka. Kepercayaan yang sudah terbangun selama ini pasti tidak akan terganggu walau mereka sudah berada di tempat lain.

“Pasca September 2016, keadaan ekonomi warga berangsur pulih secara bertahap. Damandiri melalui Tabur Puja seakan tidak terganggu keadaan yang sedang terjadi di masyarakat. Bagi mereka yang memang harus mendapatkan pencairan pasti dicairkan. Pertimbangan kami sebagai pengurus adalah, warga butuh pendamping di saat seperti ini. Bukan sekadar butuh pendamping saja, akan tetapi butuh kepercayaan yang bisa mengembalikan semangat mereka,” tutur Trisno Budiarti, Ketua RW 011 sekaligus Ketua Posdaya Melati 1 Bukit Duri, Jaksel, kepada Cendana News, Selasa (10/1/2017).

Keadaan Bukit Duri saat ini perlahan kembali seperti dulu lagi. Kegiatan warga yang masih ada di sana mulai kembali berjalan dengan semestinya, usaha-usaha mikro warga mulai kelihatan bermunculan lagi. Pencairan dana Tabur Puja Yayasan Damandiri pasca September 2016 tercatat meningkat tajam. Dari total pinjaman kepada 150 anggota aktif Tabur Puja yang awalnya masih menyentuh angka di bawah 150 juta rupiah, naik signifikan menembus kurang lebih 200 juta rupiah sampai akhir tahun 2016. Anggota Posdaya Melati 1, makin bertambah dan sudah mendekati jumlah kurang lebih 200 orang anggota.

“Dari kurang lebih 200 orang anggota aktif Posdaya Melati 1, hanya sekitar 150 orang yang aktif di Tabur Puja, sisanya adalah kader-kader kami yang membantu pemberdayaan masyarakat RW 011 Bukit Duri, Jakarta Selatan agar segera pulih dari dampak eksekusi proyek normalisasi Ciliwung Pemprov DKI Jakarta. Dan dari mereka yang aktif dalam Tabur Puja, rata-rata peminjaman mereka masing-masing mulai dari 2-4 juta rupiah,” Titin Sumartini, Bendahara Posdaya Melati 1 merangkap Kasir Tabur Puja Damandiri melengkapi penuturan Trisno Budiarti.

Salah satu yang dicatat dari warga Bukit Duri adalah bagaimana keteguhan hati mereka untuk segera pulih dari keadaan tanpa mencari-cari kesalahan siapa pun. Mereka tegar dan tabah untuk menjalani keadaan terkini sambil terus bergerak maju. Banyak dari mereka yang terberdayakan serta terbantu dengan kehadiran Yayasan Damandiri dengan Program Simpan Pinjam Tabur Puja. Manajer Tabur Puja Yayasan Damandiri, Heri Haryadi, sempat mengatakan sebelumnya bahwa benar adanya banyak warga Bukit Duri di wilayah kerja Posdaya Melati 1 terbantu oleh program Tabur Puja.

“Tabur Puja berusaha menyentuh mereka semua, namun tidak juga semuanya, karena kami memang memiliki sistem perekrutan yang cukup ketat bersinergi dengan Posdaya Melati 1 Bukit Duri. Akan tetapi, walaupun begitu siapa saja yang tersentuh Tabur Puja di sana pasti terbantu, dalam arti secara ekonomi,” jelas Heri saat bertemu Cendana News pekan lalu di Koperasi Sudara Indra.

Keadaan ekonomi warga RW 011 Bukit Duri Jakarta Selatan 2017 pasca
eksekusi normalisasi Ciliwung.

Apa pun kondisi atau cara Tabur Puja dalam memberdayakan kembali ekonomi warga melalui wirausaha adalah sudah tepat. Menjadi setitik embun di atas puing reruntuhan peradaban Bukit Duri, itulah sebuah kalimat yang pantas bagi Yayasan Damandiri dengan Tabur Pujanya. Melihat masalah dengan kepala dingin, menemukan solusi yang tepat dan menjalankan solusi tersebut kepada orang yang tepat. Wajah Bukit Duri boleh berubah, tapi tekad Yayasan Damandiri tetap sama, yaitu bagaimana memberdayakan masyarakat. Bukan sebatas wirausaha saja, akan tetapi juga peduli pada aspek pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Semua dijalankan oleh Posdaya bentukan Damandiri di setiap daerah yang terus diberdayakan.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Komentar