Anak Muda Anging Mamiri Angkat Film Lokal ke Nasional

0
17

KAMIS, 30 MARET 2017

MAKASSAR — Perfilman lokal di Negeri Anging Mamiri menggeliat. Film bernuansa sosial budaya di Sulawesi Selatan bukan saja menjadi tuan rumah di daerahnya dengan merajai bioskop di Makassar, tetapi beberapa di antaranya menerobos ke tingkat nasional.

Aziz Nojeng.

Bombe (permusuhan), Dumba-dumba (deg-degan), Uang Panai, Silariang (kawin lari), di antara karya sineas lokal.

Uang Panai adalah awal kebangkitan film di Makassar. Film debutan sutradara muda Halim Gani Safia dan  Asril Sani ini menceritakan salah satu adat istiadat di Sulawesi Selatan. Halim masih berusia 32 tahun.

Film menurut Ikram Noer, salah seorang pemerannya mampu 560 ribu penonton ketika tayang pada 2016. Film ini masuk ajang IBOMA (Indonesia Box Office Movie Award). Jika diasumsikan satu penonton memberikan kontribusi rata-rata Rp35.000, maka Uang Panai meraup pendapatan kotor antara Rp10 hingga Rp20 miliar. 

“Waktu itu pertama kali saya main film ya uang panai dan momentumnya sama pada saat peringatan film nasional. Kalau saya liat perkembangan film Makassar sangat bagus dan baik jika melihat peluangnya sangat bisa jadi film Makassar menasional sehingga film lokal Makassar tidak disebut lagi dengan film dari Makassar, ” papar mahasiswa Jurusan Kelautan ini Cendana News di kampusnya Universitas Hasanuddin.

Ikram berharap ke depannya untuk di dunia perfilman  tidak ada lagi pembajakan film seperti contoh kasus yang dialami untuk film Uang Panai.

“Filmnya masih tayang di bioskop tapi sudah keluar di youtube.  Beruntung itu pada hari-hari terakhir sebbelum turun dari layar bioskop,” keluh  aktor kelahiran 19 Januari 1993 ini kecewa.

Sementara Silariang yang kini sedang tayang di layar bioskop sudah meraup 176 ribu penoton dan masuk dalam 10 besar Box Office Film Indonesia untuk 2017 untuk sementara. Itu artinya  film ini disutradarai  Syahrir Arsyad Dini diterima pasar.  Pria kelahiran 1975 termasuk salah seorang sutradara muda berpotensi. 

Menurut  Azis Nojeng, salah seorang  pemain film Silariang bersyukur bahwa ada film yang mengangkat tema lokal pas pada hari Perfilman Nasional. Pemain lokal harus menunjukkan kemampuan aktingnya tidak kalah dengan akting pemain nasional.  

“Hari Film merupakan moment meningkatkan kreativitas dalam dunia hiburan. Anak Makassar tonji ( bisa juga) itulah yang menjadi semboyan para sineas muda makassar dalam berkarya. Allhamdulillah film ini dapat bersaing dengan film nasional,” ungkap Aziz dalam kesmepatan berbeda. Dia juga optimis Silariang masuk ke jajaran film nasional yang diperhitungkan.

Menurut Aziz lagi film berkaitan dengan Makassar sudah ada yang digarap sineas nasional. Film Athirah yang disutradarai Riri Reza di antaranya. Film ini berkisah tentang kehidupan ibu dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Semoga semangat para sineas terus berlanjut  dan tetap kreatif dalam mengeluarkan imajinasi dan ide-ide liarnya serta hindarilah perpecahan terhadap para sineas lainya,” pungkas Aziz.

Kegairahan sineas di Makassar tampaknya akan terus berlanjut. Kalau tidak ada aral melintas pada pertengahan April mendatang  Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Makassar akan menggelar Pekan Film Makassar. Terobosan lain ialah sineas Makassar menggarap film laga dan berupaya agar ikut dibintangi aktor Hongkong kondang Jet Li dan Jackie Chen.  Kalau itu terwujud film lokal Makassar bukan tidak mungkin go internasional.

Ikram Noer.

Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/ Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah

Komentar