Balikpapan Antisipasi Krisis Air, Serius Olah Hujan

0
16

SELASA, 21 MARET 2017

BALIKPAPAN — Menghadapi ancaman perubahan iklim akibat pemanasan global, The Nature Conservancy menggelar diskusi perihal hutan dan air yang belum termanfaatkan di Balikpapan (21/3/2017). Dalam diskusi hadir di antaranya Kepala Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan, Suryanto, Pembina Green Generation Balikpapan Nurul Widayati, dan Ketua The Nature Conservancy Alfan Subekti.

Suasana diskusi pemanfaatan hutan dan air di Balikpapan.

Dalam sambutannya, Alfan mengatakan, diskusi ini sengaja digelar untuk Kota Balikpapan dalam menghimpun komitmen pemerintah daerah menjaga kelestarian hutan dan pemanfaatan air. “Kami menghimpun data dan menggalang komitmen tapi tidak mengikat dari pemerintah dalam pelestarian hutan dan pemanfaatan air. Karena yang kita hadapi sekarang adanya perubahan iklim. Sehingga kita bisa tahu tantangan ke depan,” katanya saat diskusi bersama media di Balikpapan, Selasa (21/3/2017).

Alfan menjelaskan, saat hujan berlimpah, maka bagaimana dengan pemanfaatan airnya, bagaimana pula dengan pelestarian hutan. Itulah fokus diskusinya. “Ancamannya, kita tahu banjir. Dengan perubahan iklim ini, kita jadi mengetahui tantangannya, maka akan dicari solusi dari ancaman perubahan iklim itu,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Balikpapan, Suryanto, mengungkapkan, banyak upaya yang dilakukan dalam menjaga pelestarian lingkungan hutan dan pemanfaatan air. “Di hulu, kita menghijaukan kemudian di tengah kita membangun bozem atau bendali dan lainnya. Secara geografis, Kota Balikpapan merupakan kota yang tidak melakukan pertambangan batu bara, meski ada sumber daya alam batu bara,” jelasnya.

Disebutkan Suryanto, Balikpapan merupakan kota yang memiliki hutan lindung, hutan mangrove, dan hutan kota. Bahkan rencana tata ruang wilayah Kota Balikpapan sudah diatur di dalam Perda RT/RW sehingga lahan terbuka hijau dipastikan akan terjaga dengan baik.

Ada pun luas hutan lindung di Balikpapan yakni 14,781 hektare. Hutan lindung itu ada di Sungai Wain dan Manggar. Sedangkan hutan mangrove dengan luas 3.031 hektare dan hutan kota seluas 120,84 hektare.

Suryanto menambahkan, tantangan ke depan yakni masih terjadi krisis air baku di Balikpapan sehingga diperlukan pemanfaatan air.

“Kalaupun Teritip dibangun, Aji Raden dibangun, Manggar ditingkatkan hingga tahun 2017 tetap masih ada krisis air baku, karenanya kita perlu mengantisipasi. Pemanfaatan air hujan dengan injeksi menjadi air tanah salah satunya,” tandasnya.

Jurnalis: Ferry Cahyanti / Editor: Satmoko / Foto: Ferry Cahyanti

Komentar