Isi Waktu Luang, Guru Honorer SD Desa Bulok Ini Tekuni Kerajinan Sulam Tapis

0
8

SENIN, 20 MARET 2017

LAMPUNG — Bagi Sudarsini (36), warga Dusun II Desa Bulok Kecamatan Kalianda, mengajar sebagai guru honorer sejak belasan tahun silam di sekolah dasar (SD) Negeri 1 Bulok merupakan aktifitas sehari-hari. Wanita dengan panggilan Icu setiap hari berangkat sekolah sejak jam 07:00 WIB dan pulang pukul 12:30 WIB. Namun selain menjadi guru, aktifitas yang juga dilakoninya yakni menyulam tapis.  

Menggunakan alat sederhana proses pembuatan tapis berlangsung

Kain tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam.

Wanita yang berasal dari Desa Karangrejo Kecamatan Gedong Tetaan mengaku sejak sekolah, tinggal di lingkungan yang kerap menerima pesanan pembuatan selendang, sarung tapis dengan sistem upahan dengan upah sekitar Rp3 ribu per buah.

“Waktu itu saat saya upahan membuat tapis untuk membeli buku dan alat alat untuk sekolah sisanya ditabung,” ungkap Sudarsini mengenang masa masa itu sembari membuat sulam tapis menggunakan alat sederhana di balai balai bambu depan rumahnya di Desa Bulok, Senin (20/3/2017).

Wanita yang mengaku bersuku Jawa dan menikah dengan Zakaria (42) yang bersuku Lampung mengaku semakin mantap menekuni usaha pembuatan tapis di sela-sela tugasnya mengisi waktu luang di rumah.

Sudarsini guru honorer SDN 1 Bulok Kecamatan Kalianda pengrajin sulam tapis saat berangkat sekolah

Berbekal pengalaman dan alat khusus terbuat dari kayu medang, ia mengaku sudah banyak membuat pesanan kain tapis. Bahan untuk pembuatan dibeli dari toko bahan pakaian di pasar Bambu Kuning. Dengan modal sekitar Rp200-300 ribu. Sedangkan motif yang digunakan di antaranya sasap, tajuk ayun, unik unik, kupu kupu, rajut rangka, sasap tajuk, wajik, cincin serta motif lain.

Disebutkan, sulaman tapis yang dibuatnya dominan dipesan berupa kaligrafi Arab dengan pinggiran dimotif batik, selendang tapis dan berbagai jenis sarung. Untuk hiasan kaligrafi dengan ukuran 100 cm x 60 cm dijualnya dengan harga Rp200 ribu, sementara untuk selendang dijual dengan Rp30 ribu.

“Sedangkan sarung dengan hiasan sekitar Rp200 ribu dengan sistem upahan karena sebagian bahan dibawa pemesan,”sebutnya.

Disebutkan, untuk jumlah pemasukan per bulan tidak menentu, karena berdasarkan jumlah pesanan yang masuk. Ia juga mengatakan, untuk pemasaran, biasa dilakukan saat pameran dan saat ini juga dibantu oleh Badan Usaha Milik Desa.

Sementara itu, Adi Gunawan (24), ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Teluk Nipah mengaku beberapa pengrajin tradisional di antaranya kerajinan tapis Lampung, kerajinan anyaman lidi, usaha konveksi serta beberapa kelompok kerajinan untuk dijual di lokasi wisata telah diwadahi dalam dalam bentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), dimana kelompok pengrajin masuk ke dalam unit Bumdes di bawah pembinaan Pokdarwis.

Adi Gunawan

“Saat ini ada beberapa kelompok pengrajin yang ada di desa Bulok masuk dalam keanggotaan Pokdarwis dan kita usahakan untuk pengembangan pemberdayaan bersumber kearifan lokal khususnya pembuatan tapis Lampung,”ungkap Adi Gunawan.

Khusus pembuatan tapis yang ditekuni oleh Sudarni menurut Adi Gunawan masuk dalam seksi bidang keindahan dan kenangan yang saat ini membuat berbagai jenis kerajinan tapis dan mulai banyak menerima pesanan. Selain kerajinan tersebut Adi mengungkapkan akan terus mengembangkan berbagai kerajinan untuk mendukung kegiatan wisata di Teluk Nipah yang merupakan kawasan wisata pantai di Kecamatan Kalianda.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Komentar