Junait Sarwan, Temukan Cinta Sejati di Dunia Keperawatan

0
14

JUMAT, 17 MARET 2017
 
SEMARANG — Bagi Junait Sarwan, tahun 1997 dan 2000 dianggap mempunyai makna yang mendalam, karena di tahun-tahun itulah dirinya menemukan arti cinta pada dunia keperawatan. Tahun 1997, dirinya mengalami “cinta pertama” saat mulai menjadi perawat di RS Kariadi. Sementara tahun 2000 Junait menikah dengan Nur Hasanah yang juga seorang perawat di rumah sakit yang sama.

Junait Sarwan.

Menurut Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Semarang tersebut, dunia keperawatan dan Nur Hasanah mempunyai arti penting. Dalam dunia keperawatan, dirinya menemukan fungsi penting hadirnya seorang perawat bagi pasien untuk melanjutkan hidup. Sementara Nur Hasanah adalah istri yang bisa dijadikan rujukan ketika mengalami permasalahan menangani pasien.

Bagi Junait, perawat berfungsi sebagai mitra dokter. Jika kedua profesi tersebut bisa berkoordinasi dengan baik cure (mengobati) dan care (merawat), maka pasien akan cepat sembuh. Dokter mempunyai tugas untuk mendiagnosa, menemukan dan mengobati penyakit. Setelah tiga langkah tersebut dilalui, maka tugas beikutnya diserahkan kepada perawat untuk membantu mengontrol dan menjaga pasien. Karena itulah dalam menjalankan tugas dirinya mengakui sering menjadi jembatan dokter dengan pasien mengenai tindakan yang harus dilakukan.

“Perbedaan dokter dan perawat adalah cure dan care untuk menjaga pasien,” terangnya saat ditemui Cendana News di peringatan Harlah PPNI (17/3/2017).

Lebih lanjut, pria yang sudah dua puluh tahun menjalani profesi perawat tersebut menambahkan, selain merawat pasien, dirinya juga mempunyai tugas untuk meningkatkan kompetensi bagi perawat-perawat yang ada di Kota Semarang. Juga secara kesejahteraan. Kedua komponen tersebut harus berjalan secara beiringan agar perawat bisa menjalankan tugasnya secara baik dalam rangka mengabdikan diri kepada masyarakat. Sebagai Ketua Umum PPNI Kota Semarang, dirinya aktif mengadakan berbagai kegiatan ilmiah, pelatihan dan seminar agar enam ribu anggotanya bisa mempunyai standar kerja keperawatan.

Yang masih menjadi ironi adalah kesejahteraan perawat, bagi ayah dari Farel Assyauqi, Haedar Reza dan Arsya tersebut, saat ini dia prihatin karena teman-teman sejawatnya masih banyak yang menjadi honorer walaupun pengabdiannya sudah mencapai lebih dari sepuluh tahun. Baginya, melihat kondisi perawat yang harus bekerja siang dan malam mereka sudah selayaknya mendapat penghargaan berupa kesejahteraan. Karena itu, dirinya mendukung penuh PPNI pusat yang hari ini melakukan demonstrasi di DPR-RI.

“Walaupun kami fokus kegiatan Harlah, tetapi masih bisa mengirim satu bus ke Jakarta untuk mengawal revisi Undang-undang ASN,” tambah pria lulusan S2 Keperawatan, Universitas Diponegoro itu.

Sering Gantian Shift dan Berdiskusi di Rumah
Junait merasa bersyukur, bisa menikahi Nur Hasanah. Bagi dirinya, wanita lulusan Poltekkes Semarang tersebut selain sebagai seorang istri yang baik juga menjadi tempat diskusi tentang keperawatan. Pasangan yang menikah pada 31 Maret 2000 tersebut sering menghabiskan waktu mengobrol tentang keadaan pasien yang sulit sambil melepas lelah.

Kehidupan rumah tangga Junait Sarwan-Nurhasanah yang memasuki 17 tahun seringkali juga harus membagi waktu untuk menjaga anak-anak dan pasien. Karena kerja perawat bisa sampai 24 jam. Menurut pria yang bekerja di Instalasi Jantung RSUD Kariadi tersebut, ada kelebihan mempunyai istri seorang perawat. Kelebihannya adalah tidak perlu mengajari lagi tentang cara merawat anak-anak, karena Nur Hasanah sudah mempunyai pengetahuan untuk menjaga mereka mulai dari masa kehamilan hingga dewasa.

Selain itu, mereka juga sering mengajarkan tugas mulia perawat bagi putra-putrinya agar mereka menjadi paham kenapa ayah-ibunya sering bekerja sampai larut malam. Dirinya mengakui, seringkali mereka bertemu saat tidak menjalani shift walaupun sama-sama bekerja di RS Kariadi. Bahkan terkadang ketika sedang berkumpul bersama keluarga, baik Junait atau Nur Hasanah tiba-tiba harus beranjak pergi ketika dikabari ada pasien yang kondisinya sedang gawat.

“Pernah ketika lagi berkumpul tiba-tiba ada panggilan dari rumah sakit. Ada pasien yang mengalami kegagalan jantung sehingga saya harus mengatasi,” ujar Junait.

Untunglah, anak-anaknya memahami bahwa seringkali kedua orang tuanya bekerja hingga larut malam untuk menyelamatkan nyawa orang lain sehingga mereka bisa memaklumi. Karena itulah Junait merasa bahagia menjalani kehidupan. Sebab istri dan anak-anaknya bisa mengerti tentang profesi yang dijalaninya. Baginya, keperawatan adalah dunia yang harus selalu siap merawat di setiap saat.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar