JUT Melebihi Target RPJMD, Ketua DPRD Sikka: Tak Masalah

0
14

KAMIS, 30 MARET 2017

MAUMERE – Ketua DPD Sikka, Rafael Raga, SP., menilai, pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) sepanjang 50 Kilometer yang melebih target Rencana Pembangunan Jangka Manengah Daerah (RPJMD) 2013-2018 Kabupaten Sikka, tak menjadi persoalan.

Jalan Usaha Tani di Desa Runut yang sempat dipersoalkan, sebab berada di dalam kawasan hutan lindung.

Menurut Rafael, jika melihatnya berdasarkan target di RPJMD, maka semua target pencapaian yang tercantum di dalamnya sudah tidak sesuai. “Yang ada di dalamnya semua sudah tidak sesuai lagi, karena yang namanya perencanaan dan sesuatu yang masih direncanakan itu bukan merupakan sebuah kepastian, dan dalam perjalanan waktu pasti ada penyesuaian-penyesuaian,” ujarnya.

Rafael mencontohkan, di dalam  RPJMD Sikka, tidak ada pembangunan Waduk Napung Gete, tapi saat ini ada pembangunan Waduk Napung Gete dan dana untuk pembebasan lahan bersumber dari APBD II Sikka, sehingga harus disesuaikan lagi peruntukkan anggaran untuk lahan waduk tersebut. Karenanya, JUT tak bisa dipandang hanya sebagai jalan menuju ke kebun-kebun, melainkan jalan antar kampung yang membuka keterisoliran sebuah wilayah, meski nomenklaturnya memakai nama Jalan Usaha Tani (JUT). “Kita memakai nomenklaturnya jalan usaha tani, karena lebih mudah penganggaran dan pelaksanaannya. Bila dimasukan ke Dinas Pekerjaan Umum, maka akan membutuhkan  anggaran besar,” ungkapnya.

Menurut Rafael, bila jalan usaha tani, maka jalan akan dibuka terlebih dahulu dan seharusnya setelah jalan usaha tani dibuka, maka melalui Dana Desa pihak desa harus menindaklanjuti dengan melakukan semenisasi. Dengan adanya Pokok Pikiran DPRD atau Dana Aspirasi, di mana anggota dewan juga mengusulkan pembangunan, maka belanja modal meningkat dan belanja modal ini yang harus langsung dirasakan masyarakat. “Mekanismenya bermanfaat, tapi kalau ada oknum DPRD Sikka yang mengerjakan proyek itu yang tidak dibenarkan,” tegasnya.

Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga,SP.

Dengan pembangunan jalan usaha tani, masyarakat bisa mendapatkan jalan-jalan baru. Padahal, ke depan untuk mendapatkan lahan bagi jalan akan semakin susah, karena masyarakat tidak merelakan tanahnya untuk dijadikan jalan raya. “Sepuluh tahun lalu, saat saya masih di Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, membebaskan lahan untuk jalan masih lebih mudah dibandingkan sekarang,” katanya.

Sebelumnya, Badan Pimpinan Cabang Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Sikka, melalui Sekertaris Gapensi, Paul Papo Belang, kepada wartawan di kantornya, pada Senin (20/3/2017), mempersoalkan pembangunan JUT yang banyak dikerjakan oleh pengusaha dengan memberikan sejumlah uang kepada oknum anggota DPRD Sikka.

Menurut Gapensi Sikka, proyek JUT untungnya sangat besar, sebab pengerjaannya pun sangat mudah dengan hanya menyewa alat berat dan melakukan penggusuran yang dalam seminggu bisa selesai dikerjakan jalan yang panjangnya 1 kilometer. “Untungnya sangat besar, sehingga banyak orang berlomba-lomba mengerjakan proyek tersebut, meski jumlahnya sudah melebihi target yang tercantum dalam RPJMD Sikka,” ungkapnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Komentar