Kadar Air Tinggi Sebabkan Harga Karet Turun

0
14

JUMAT, 31 MARET 2017

LAMPUNG — Petani pemilik kebun karet di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan mulai merasakan penurunan harga sejak satu bulan terakhir. Harga di tingkat petani di Desa Klaten Kecamatan Penengahan, berkisar Rp10.000 hingga Rp11.000 per kilogram. dimana sebelumnya mencapai Rp15.000 per kilogram.

Nandas mulai menyadap karet yang ditampung pada mangkuk khusus

Nandas (25), pengelola kebun karet menyebutkan meski harga berfluktuasi dan menyebabkan sebagian petani mengubah tanaman di lahan masing-masing, namun masih banyak yang bertahan bertahan meski harga karet masih turun dalam beberapa bulan terakhir. Hal tersebut dikarenakan, tanaman karet menjadi usaha sampingan pendukung usaha sawah dan kebun.

“Kalau petani karet di sini rata rata minimal memiliki sekitar 500 hingga 1.000 batang karet tapi di beberapa desa lain bisa memiliki karet hingga ribuan batang dan dijadikan sebagai tanaman investasi tahunan di samping memiliki lahan sawah dan kebun,” terang Nandas yang ditemui Cendana News di kebun karet yang dikelolanya sembari memeriksa setiap mangkuk tempat getah karet menetes, Jumat (31/3/2017).

Ia juga menjelaskan, bagi petani yang menjadikan karet sebagai mata pencarian utama akan sangar merasakan dampak dari penurunan harga. Seperti di di wilayah Kecamatan Sragi dan Penengahan yang menanam karet di sekitar lahan Register 1 Way Pisang. Saat harga anjlok, sebagian petani karet bahkan memilih sembari mencari pekerjaan lain sebagai buruh pemetik jagung dan buruh pemotong padi.

Nandas menjelaskan, kualitas getah karet yang cukup deras selama musim penghujan justru membuat tingkat potongan saat penimbangan menjadi lebih tinggi dibandingkan saat musim kemarau. Kadar air pada getah karet membuat harganya lebih rendah.

“Salah satu faktor rendahnya harga karet di tingkat petani juga karena kita menjual dengan sistem menunggu pembeli datang ke kebun karena pabrik karet berada di wilayah Tanjungbintang dengan jarak ratusan kilometer, kalau harga di pabrik kemungkinan tinggi,”ungkap Nandas.

Camat Kecamatan Penengahan, Lukman Hakim

Terkait nasib para petani karet yang mengeluhkan anjloknya harga komoditas pertanian tersebut, camat Kecamatan Penengahan, Lukman Hakim mengaku agar petani tidak terpaku pada satu komoditas pertanian.

Ia bahkan menganjurkan petani melakukan proses penanaman multikultur dalam satu lahan perkebunan sehingga memikliki berbagai jenis tanaman lain untuk bisa dijadikan sumber penghasilan. Beberapa tanaman yang bisa ditanam multikultur diantaranya kelapa, jengkol, petai, kakao, buah-buahan sehingga petani bisa panen sepanjang musim.

“Kalau menanam satu jenis tanaman saat harga tinggi memang menguntungkan namun saat harga anjlok dan petani hanya bergantung pada satu jenis tanaman maka akan merugikan,” terang Lukman Hakim.

Lahan tanaman yang mulai dideres atau disadap di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan

Sebagai wilayah yang memiliki lahan pertanian cukup luas Lukman Hakim juga mengungkapkan sebagian lahan pertanian di wilayah tersebut telah berkurang ratusan hektar akibat terimbas pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Meski demikian sebagian pemilik lahan yang kehilangan lahan pertanian masih bisa membeli lahan pertanian dengan menggunakan uang ganti rugi pembebasan lahan tol dan masih bisa melakukan aktifitas pertanian.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Komentar