Literasi Arab Pegon, Perkuat Identitas Islam di Jawa

0
14

SELASA, 28 MARET 2017

YOGYAKARTA — Seminar dan Kajian Literasi Arab Pegon di Masjid Plosokuning, Sleman, menjadi upaya generasi muda sekarang untuk menggali dan membangkitkan lagi tradisi literasi Arab Pegon yang banyak mengandung nilai ajaran luhur nenek moyang. Hal ini dinilai penting sebagai penguatan identitas Islam Nusantara, di tengah maraknya isu disintegrasi bangsa.

Gus Taqi

Pengasuh Pondok Pesantren Qashrul Arifin Yogyakarta, Kyai Ruhullah Tagi Murwat, familier disapa Gus Taqi, mengatakan, hingga 1990-an, masyarakat Dusun Plosokuning masih banyak yang menggunakan huruf Arab Pegon dalam berbagai urusan. Termasuk untuk mencatat hutang-piutang, perdagangan, kajian agama, silsilah keluarga dan sebagainya.

Namun, sejak digencarkan program baca tulis latin oleh Pemerintah sebagai upaya pemberantasan buta huruf (latin), penggunaan Huruf Pegon semakin ditinggalkan. “Sekarang kita ingin membangkitkan lagi literasi Arab Pegon itu, karena banyak naskah-naskah lama tentang sejarah dan nilai-nilai luhur agama Islam ditulis dalam huruf pegon. Ini tidak hanya sekedar melestarikan tradisi pegon, namun jauh lebih penting adalah untuk mempertegas identitas Islam Jawa-Nusantara,” kata Gus Taqi, saat ditemui usai Seminar dan Kajian Literasi Arab Pegon di Masjid Pathok Negoro, Plosokuning, Sleman, Senin (27/3/2017).

Di Plosokuning, khususnya bagi jemaah Pondok Pesantren Qashrul Arifin dan Masjid Pathok Negoro Plosokuning, upaya membangkitkan dan melestarikan literasi Arab Pegon dilakukan dengan menggelar kajian kitab keagamaan Arab Pegon seminggu sekali. “Untuk lebih menguatkan lagi upaya pelestarian itu, kita akan bekerjasama dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dinas Kebudayaan DIY dan Kraton Yogyakarta. Bukan tidak mugkin, nantinya kita akan bangun semacam pusat kajian sekaligus wisata literasi Arab Pegon. Dengan upaya ini, harapannya kita bisa mempertegas identitas Islam Nusantara, Islam yang bercorak lokal dan tidak lepas dari budayanya,” kata Gus Taqi.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Kamaludin Purnomo, menambahkan, menggali tradisi literasi Arab Pegon menjadi sangat penting, mengingat banyak naskah-naskah sejarah yang ditulis dengan huruf Arab Pegon. Misalnya, Babad Diponegoro. Di Kraton Yogyakarta, begitu banyak naskah sejarah Arab Pegon yang selama ini belum tersentuh. “Kami selama ini berupaya sebisa kami untuk menghidupkan lagi literasi Arab Pegon itu, karena banyak nilai sejarah penting yang ditulis dengan huruf Arab Pegon dan selama ini belum banyak diungkap,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar