Peniup Saksofon “Black Brothers” Memilih Jaga Rumah Papua Indonesia

0
23

KAMIS, 16 MARET 2017

PAPUA  — David Rumagesan lahir besar di Sorong, Papua Barat (dulu Irian Jaya).  Si Peniup Saksofon dalam grup band legendaris Black Brothers yang membuat kagum blantika musik Indonesia tahun 1976 hingga 1978 kala itu. Siapakah sebenarnya pria itu, berikut penelusuran Cendana News.

David Rumagesan.

Si Peniup alat musik Saksofon grup band legenda ‘Black Brothers’ ini memiliki nama asli Abdullah Junus yang lahir di Bintuni (zaman Belanda bernama Stengkol), Papua Barat Stengkol (kini Bintuni) 10 Mei 1954.
 
Suami dari Eva Ekawatty ini dianugrahi tujuh anak Abdi Reza Fachlewi (38), Arie Muhammad Rivai Junus (37), Vicky Muhammad Yusfar Junus  (34), Rogayah Dewi Prastiwi Keliobas (23), Giovano V Gravid (21), Ahmad Sirga Qadhafi Junus (20), Chea Zahrah Vaganza Junus (16) yang kini kedua pasangan itu miliki tujuh orang cucu.

Pria yang gemar kenakan tas rajutan benang warna merah bertuliskan Papua ini menguasai alat musik Saksofon, Tenor, Alto, Flute, Bariton, Klarinet dan Gitar. Namun, saat duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD) dirinya sering memainkan alat musik gitar ukulele.

Masa kecil hingga remaja ia habiskan di Sorong, Papua Barat. Pada  1967, David lulus SD YPK 1, lulus SMP YPK 1 tahun 1971, dan tahun 1973 lulus SMA Negeri. Setelah itu, pria berambut kribo itu melanjutkan sekolah musik ke Akademi Musik Indonesia (AMI) yang kini namanya Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta. Sayangnya, ia tidak tamat di sekolah perguruan tinggi bidang musik itu.

Di tengah-tengah kesibukan bersekolah musik, dirinya mendapat panggilan dari rekannya bernama Hengki MS, Yochy Patypeiluhu dan Benny bettay yang telah menunggunya di Jakarta untuk bergabung dalam grup band Black Brothers. Di sini terungkaplah fakta, dari enam personil grup band legendaris itu hanya David Rumagesan mencicipi sekolah musik, sementara lima lainnya belajar musik secara otodidak.

“Saya punya guru musik di Yogya itu Pak Kusbini yang ciptakan lagu ‘Pada-Mu Negeri’ itu guru pembimbing saya,” kata David.

Mampu Menciptakan Lagu

Sebelum bergabung dengan Black Brothers, ia telah mengenal sosok Andy Ayamiseba saat masih di Sorong, Papua Barat. Ketika empat personil grup band itu berada di Jakarta, almarhum Hengky MS diminta oleh Andy Ayamiseba untuk memanggil dirinya bergabung ke Jakarta.

“Saya tak selesai kuliah, setelah saya bergabung ke Black Brothers dan nama kami sudah besar. Saya tidak lanjutkan sekolah lagi,” tutur pria yang gemar makan ikan laut.Tahun 1976-1978 ia juga menulis lima lagu di antaranya empat lagu etnik dan satu lagu bahasa

Indonesia, masing-masing “Gadis Billiard”, “Mange-Mange”, “Humbelo”, “Samandoyi” dan “Amapondo”. Lagu yang sempat melejit kepermukaan yakni “Humbelo”, “Mangge-Mangge”, “Dirunina”, “Amapondo”, “Sajojo 1”, “Sajojo 2”, serta “Fifi Weni”. 

“Sekarang saya ciptakan lagi Woti Woja,” ujarnya.

Dari seluruh personil Black Brothers yang berjumlah 6 orang, tiga diantaranya berwarga Negara Belanda yakni Yochi, Amry dan almarhum Hengky MS. Sementara Benny Betay dan Stevie Mambor berwarga Negara Australia. Nah, pria yang telah mempunyai tujuh orang cucu ini yang berwarga Negara Indonesia.

“Teman-teman Black Brothers semua ke luar negeri, saya yang jaga rumah (Irian Jaya-Papua, Indonesia). Kalau tak ada yang jaga dan bersihkan rumah,” katanya.

Setelah dirinya pindah dari Jakarta dan kembali ke tanah kelahirannya Irian Jaya (Papua Barat-red) pada 1978, lantaran dihadapkan adanya panggilan pekerjaan bagian logistik peralatan drilling (Bor Minyak) PT Pertamina di  Sorong, ditengah kesibukan kerja sebagai pekerja minyak itu dirinya tetap bermusik setiap kali ada acara-acara Pertamina maupun undangan menghibur diluar perusahaan minyak saat itu.

Jiwa seninya yang cukup tinggi itulah, dirinya berhasil membuat album Irian Gase Rock dari Akurama Record yang didalamnya terdapat nama kondang yaitu Fariz RM, diikuti Herman Gely, Uce Udehoro, Rudi Noor.

“Dalam album itulah ada lagu Sajojo, setelah recording saya kirim ke Belanda dan meminta Yochi dan Hengky untuk membuat album itu lagi.  Mereka buat lagu itu di Eropa,” kata Pensiunan PT Pertamina di Cirebon pada 2010 lalu.

Punya Ritual Adat

Pad saat dirinya duduk di bangku kelas 3 SD YPK 1 Sorong, David bersama teman-temannya sering bernyanyi di bibir pantai sambil menghibur seorang tete (kakek) sedang sibuk mengukir sebuah tanduk perahu. Entah mengapa, sang kakek itu memanggil dirinya untuk memakan daun yang diambilnya dari pantai dan diikuti pesan dari kakek “Daun itu buat suara bagus.”

“Ada Bapak Yulius Waromi, tong panggil dia tete (kakek), pace ini dia jago ukir perahu Ambai. Pace ini tiap sore ada ukir-ukir perahu, saya pasti ada di bawah pace dekat perahu, sambil main gitar Jukulele. Terus tete kasih saya daun dia ambil dari pantai, baru tete dia bilang ko (kamu) makan itu nanti kam (kamu) menyanyi bagus,” kenang pria yang gemar memancing di tengah laut ini.

Setiap ia tampil bersama Black Brothers dipanggung-pangung, tanpa sepengetahuan teman-temannya.

Ia melakukan ritual adat menepuk kakinya ke lantai atau tanah sebanyak tiga kali lalu menyanyikan sebuah lagu pembuka Black Brothers yaitu “Humbelo”. Ritual adat yang ia dapatkan itu saat dirinya bersama keluarga tinggal di Stengkol dari tahun 1947-1957 dan selanjutnya pindah ke Klamono di Moi Klabra dari 1957 hingga 1967.

“Setelah itu baru tong (kami) bersama keluarga turun ke Sorong. Jadi bahasa Moi Flabra dan adatnya saya paham sekali,” katanya.

Jauh dari kesibukan bekerja di Sorong, enam tahun sebelum dirinya dipindahkan ke Pertamina di Cirebon tepatnya pada 1993. Waktu mempertemukan dia dengan Hengky MS teman satu grup band Black Brothers yang datang dari Belanda ke Indonesia.

“Saya berpisah dengan almarhum Hengky pada 1978 saat ke Sorong.  Saya bisa bertemu Hengky lagi pada 1993. Almarhum paling sering pulang balik Belanda-Indonesia. Itu inisiatif almarhum sendiri untuk datang ke Sorong mencari saya, juga sering ke Jayapura, Biak,” tuturnya.

Dia mengaku  bertemu Amry pada  1998. Sementara Benny Bettay bekerja di Kantas salah satu maskapai penerbangan di Australia itu sempat dikunjungi David  pada  2014 setelah berpisah sejak 1978 lalu. Kunjungan David  pada tahun itu, menyematkan diri bersilaturahmi ke Stevie Mambor.

“Saudara Stevie pernah pulang tapi hanya antar jenasahnya Agus. Stevie paling jarang pulang ke Indonesia,” ujarnya.

Sang peniup Saksofon itu juga mengungkapkan, rekannya Stevie Mambor tidak dapat berkunjung ke Bumi Cenderawasih, Indonesia. Dikarenakan sakit paru-paru yang diderita Stevie dan tengah jalani kemoterapi di tempat tinggalnya Negara Australia.

Kini, yang sedang berada di Papua, Indonesia baru tiga personil yakni Yochy, Amry dan David, ketiganya tengah mendapat  pekerjaan di  pentas musik keliling  untuk beberapa kabupaten dan kota di Papua.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Indrayadi T Hatta

Komentar