Perhotelan di Banjarmasin Kurang Menampilkan Kearifan Lokal

0
11

KAMIS, 30 MARET 2017

BANJARMASIN —- Manajer Pengembangan Bisnis PT Succofindo (Persero), Faisal Arif, mengatakan pengusaha hotel di Banjarmasin kurang memberikan sentuhan seni budaya daerah di setiap ruangan hotel. Sebab, Faisal melanjutkan, konsep usaha perhotelan di Kota Seribu Sungai itu masih mengadopsi kepentingan bisnis ketimbang pariwisata. 

Faisal Arif usai sosialisasi standarisasi pelayanan hotel di Banjarmasin.

Menurut dia, konsep semacam ini akibat perekonomian Kalimantan Selatan ditopang sektor bisnis komoditas batubara dan kelapa sawit. Faisal belum pernah menemukan hotel yang orientasinya murni wisata di Kalimantan Selatan.

“Hampir semua arsitekturnya nuansa bisnis. Hotel di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan berdiri untuk kepentingan bisnis,” kata Faisal Arif di sela sosialisasi standarisasi perhotelan di Banjarmasin, Kamis 30 Maret 2017.

Selain itu, kata Faisal, belum ada satupun destinasi wisata di Kalimantan Selatan yang masuk ikon pariwisata nasional. Ia menghimbau pengusaha hotel sudah saatnya memberikan ruang tampil kearifan lokal di setiap ruang perhotelan.

“Setiap pagi dan sore seharunya ada nyanyian daerah di ruang makan atau arsitekturnya ada sentuhan kearifan lokal.”

Faisal menilai sentuhan kearifan lokal hotel-hotel di Banjarmasin masih kalah jauh dibandingkan hotel-hotel di Kota Padang, Lampung, Yogyakarta, dan Palembang. Hotel di keempat kota itu, ia mencontohkan, rutin menyuguhkan khasanah budaya daerah, seperti menampilkan pemusik lagu-lagu daerah setiap pagi dan sore.

“Hotel di Banjarmasin dan Kalsel kebanyakan tematik modern. Artinya budaya Banjar sendiri mulai ditinggalkan masyarakat,” ujar Faisal seraya menambahkan penampilan khasanah daerah sejatinya berpotensi menopang arus kunjungan wisatawan ke Kalimantan Selatan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Dodot Wahyuddin, tidak membenarkan sepenuhnya atas argumentasi Faisal Arif tersebut. Sebab dari 140 hotel di bawah naungan PHRI Kalsel, Dodot mengatakan ada 30 persen pengelola hotel yang menyuguhkan kesenian dan budaya Banjar di hotelnya, seperti permainan musik panting sekaligus mengekspos budaya Banjar.

“Kami terus himbau pemilik hotel menampilkan kesenian daerah atau kearifan lokal agar menarik wisatawan. Memang mayoritas belum ada sentuhan etnik, tapi bukan berarti enggak ada,” kata Dodot Wahyuddin meluruskan celoteh Faisal Arif. Dodot sepakat asumsi sentuhan kearifan lokal bisa membentuk  citra positif yang membekas di kalangan pelancong.

Selain menampilkan kearifan lokal di hotel, menurut dia, pemerintah seharunya lebih gencar membentuk kesadaran wisata di tengah masyarakat. Dodot mengakui masyarakat Kalimantan Selatan mayoritas masih rendah kesadaran wisatanya.

“Misalkan nasi bungkus yang biasa dijual Rp10 ribu, kalau lihat wisatawan asing justru dijual Rp30 ribu per bungkus. Jadi perlu membangun mindset, budaya dipoles, lalu promosi,” ujar Dodot memberikan masukan.

Jurnalis: Diananta P. Sumedi/Redaktur: Irvan Sjafari/Diananta P Sumedi

Komentar