Persiapan Haji 2017 Lebih Baik

0
20

RABU, 22 MARET 2017

JAKARTA — Survei Indeks Kepuasan Jamaah Haji (IKJH) oleh BPS menunjukkan, dalam tiga tahun terakhir terjadi peningkatan. Tahun 2014 sebesar 81,52 persen, tahun 2015 82,67 persen, dan tahun 2016 sebesar 83,83 persen. Pemerintah akan terus berkomitmen meningkatkan pelayanan penyelenggaraan ibadah haji.

Suasana Rapat Tingkat Menteri yang membahas persiapan haji 2017.

Hal ini diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani, ketika memimpin sekaligus memberikan arahan pada Rapat Tingkat Menteri (RTM) terkait Persiapan Penyelenggaraan Ibadah Haji 1428 H/2017 M, di ruang rapat utama lantai 7 gedung Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (22/3/2017).

“Penyelenggaraani badah haji memiliki kompleksitas tinggi, sehingga kita harus terus mematangkan persiapan.Tapi, secara umum kita sudah lakukan banyak kemajuan,” ujar Puan Maharani.

RTM kali ini membahas untuk memastikan kesiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2017, baik di Indonesia maupun di Arab Saudi, serta untuk membahas jika ada permasalahan terkait penyelenggaraan ibadah haji.  RTM dihadiri oleh Menkes Nila F Moeloek, Menag Lukman Hakim Syaifudin, Menhub Budi Karya Sumadi, Seskemenko PMK YB Satya Sananugraha, Staf Khusus Menko PMK Dolfie OFP,  Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kemenko PMK Agus Sartono, dan jajaran kementerian terkait lainnya.

Pada tahun 2016, peningkatan yang terjadi tercatat masuk dalam kriteria memuaskan atau di atas standar dengan indikator antara lain biaya haji yang turun rata-rata Rp1.768.800. Pemerintah juga mengganti biaya pembuatan paspor haji, pemondokan jamaah haji yang memiliki fasilitas setara hotel bintang tiga, dan rute penerbangan yang lebih efisien.

Untuk tahun 2017 ini, seluruh Jamaah Haji Gelombang I direncanakan mendarat di Madinah, sedangkan Gelombang II langsung ke Jeddah,  layanan transportasi Bus Sholawat diperluas dan beroperasi 24 jam serta bus antarkota perhajian lebih bagus, dan konsumsi di Mekkah menjadi 24 kali dari yang semula 15 kali.

Terkait penambahan kuota jamah haji asal Indonesia, terang Puan, dipastikan langkah antisipasi yang harus dilakukan antara lain jumlah petugas haji yang harus dapat mencukupi dalam memberikan berbagai layanan umum. Termasuk layanan kesehatan agar jadi semakin baik dan penempatan jamaah haji saat berada di Mina mengingatkan jumlah jamaah saat ibadah puncak yang akan semakin padat.

Di sisi lain, naiknya harga sewa hotel karena jamaah haji yang menginap juga semakin banyak. Khusus untuk hotel ini, semua negara diketahui tengah bersaing ketat untuk mendapatkan hotel di kawasan Markaziyah atau hotel yang hanya berjarak ± 800 meter dari dan ke Masjid Nabawi, Madinah.

“Semua persiapan memang benar-benar harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kita harus mengingat betul bahwa dengan penambahan jumlah kuota haji, berarti jumlah orang yang akan dilayani juga semakin banyak,” tegasnya.

Seperti diketahui, kuota jamaah haji Indonesia sudah kembali normal 100 persen atau menjadi 221 ribu calhaj termasuk tambahan kuota sebanyak 10 ribu jamaah, terdiri atas 204.000 calhaj reguler dan 17.000 calhaj khusus. Jumlah calhaj yang kini dalam daftar tunggu paling lama atau 29 tahun  di Sulawesi Selatan, sementara yang paling cepat yaitu 11 tahun di Provinsi Sulawesi Utara.

Selain kuota haji yang bertambah menjadi 221 ribu, persiapan lain seperti transportasi, hotel atau pemondokan, kesehatan dan makan juga telah dibahas. Untuk pemondokan haji sendiri, Puan, mengatakan, Indonesia setara dengan bintang tiga.

“Peningkatan asrama haji juga sekarang sudah dimintakan bahwa semua hotel untuk jamaah haji itu setingkat dengan hotel tiga,” ujarnya.

Jurnalis: Shomad Aksara / Editor: Satmoko / Foto: Humas PMK

Komentar