Posdaya Ngijo Bantul, Terkenal hingga Manca Negara

0
12

SABTU, 25 MARET 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Pedukuhan Ngijo, Kelurahan Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, secara geografis berada di daerah yang cukup terpencil. Diapit jajaran perbukitan seribu, pedukuhan ini terletak jauh dari Ibukota Kabupaten Bantul maupun Ibukota Provinsi DI Yogyakarta.

Ketua Posdaya Ngijo, Dwi Hartati

Meski demikian, kehidupan warga masyarakat di dusun ini terbilang maju. Berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat banyak sekali ditemukan di dusun ini. Namun tak banyak orang tahu, jika dusun terpencil ini menjadi langganan lokasi kunjungan studi banding dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan juga sejumlah negara lain, seperti Australia dan Afrika.

Adalah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Ngijo, salah satu motor penggerak berbagai kegiatan pemberdayaan di Dusun Ngijo, Srimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Berdiri sejak 1 Maret 2009, keberadaan Posdaya di dusun ini telah memberikan dampak nyata bagi perkembangan dan kemajuan Dusun Ngijo dengan berbagai kegiatan yang dinaunginya. Tak hanya melingkupi bidang ekonomi kewirausahaan dan pendidikan, namun juga di bidang lingkungan, kesehatan hingga bidang keagamaan.

Ditemui Cendana News di rumahnya, Kamis (23/3/2017), Ketua Posdaya Ngijo, Dwi Hartati (45), didampingi sejumlah pengurus Posdaya lainnya, menuturkan, pendirian Posdaya Ngijo berawal dari adanya program gerakan pendirian Posdaya di tiap dusun se-Kabupaten Bantul, pasca gempa bumi pada 2006, silam. “Ada 31 orang pengurus yang menjadi penggerak Posdaya Ngijo. Seluruhnya merupakan komponen kader-karer berbagai program kegiatan tingkat dusun yang telah ada sebelumnya. Baik itu kader penggerak LPMD, Ibu-ibu PKK, Pemuda, Takmir Masjid, dan sebagainya,” ujar wanita yang akrab disapa Tatik, ini.

Sebagai sebuah forum komunikasi dusun, Posdaya Ngijo menjadi wadah atau naungan seluruh kegiatan yang ada di dusun ini. Sekaligus juga menjadi forum silaturahmi antar warga di wilayah pedukuhan. “Sebelum ada Posdaya, sejumlah kegiatan di dusun ini, seperti LPMD, PKK, Posyandu, Lansia, hingga Rembug Dusun itu sudah ada dan jalan sejak lama. Namun, sejak adanya Posdaya, semua kegiatan itu menjadi lebih tertata, lebih kuat dan jauh berkembang dari sebelumnya. Itu karena semua pengurus dan kader terwadahi dalam satu wadah Posdaya, sehingga lebih kompak,” tuturnya.

Dengan latar belakang pendidikan pengurus yang merupakan sarjana dan lulusan SLTA, ditambah kekompakan dan kebersamaan antar semua pengurus dan warganya, Posdaya Ngijo dengan cepat tumbuh dan berkembang. Didampingi sejumlah dosen dan mahasiswa dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (LP2M UST) Yogyakarta, Posdaya Ngijo mengembangkan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Hanya dalam waktu sekitar 1-2 tahun, Posdaya Ngijo telah mampu mencapai prestasi luar biasa, baik tingkat regional maupun nasional. Mulai dari juara lomba lingkungan bersih dan sehat tingkat kabupaten pada 2010, mendapatkan Damandiri Award sebagai Posdaya berprestasi tingkat nasional pada 2011, juara Posdaya tingkat korwil, regional dan 8 besar nasional pada 2014, hingga juara lomba Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Bina Keluarga Lansia (BKL) se-provinsi DIY pada 2015.

Majunya Dusun Ngijo dengan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui Posdaya, yang dibuktikan dengan sejumlah raihan prestasi itu juga membuat dusun ini banyak dikunjungi daerah lain untuk lokasi studi banding sejak 2011. Baik itu dari perangkat Pemerintah Daerah, mahasiswa dan dosen, hingga relawan dan peneliti. Mulai dari Purworejo, Boyolali, Bekasi, Jakarta, Bogor, hingga Gorontalo, dan Bone Sulawesi. Bahkan, juga Guinea, Nepal dan Afrika. “Setiap ada kunjungan itu, kita akan menggandeng semua warga masyarakat. Semua kegiatan yang ada juga kita tampilkan, sehingga para pengunjung mengetahui dan melihat sendiri semua potensi yang ada di dusun ini,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar