Rumah Joglo di Ponorogo, Masih Lestari

0
16

SABTU, 18 MARET 2017

PONOROGO – Sebagian besar warga Bumi Reog, Ponorogo, masih menjaga arsitektur tradisional hingga kini. Salah-satunya terlihat dari banyaknya bangunan rumah yang masih berbentuk joglo, meski saat ini banyak rumah minimalis modern yang sedang trend akhir-akhir ini.

Rumah Joglo Ponorogo

Di Desa Kunti, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, masih ada puluhan rumah berbentuk joglo dengan halaman yang luas. Salah-satu pemilik rumah joglo, Partimah (85), saat ditemui Cendana News pada Sabtu (18/3/2017), menjelaskan, rumah yang ditempatinya merupakan warisan dari keluarga dan tidak boleh diubah strukturnya. “Modelnya sama dari awal pembangunan, dulu hingga sekarang, hanya kalau dulu alas rumah masih tanah, sekarang diganti keramik biar bersih dan rapi,” jelasnya.

Menurut Partimah, perbedaan joglo yang ada di Jawa Tengah dengan joglo di Ponorogo terletak pada pemilihan ketinggian atap. Di Ponorogo, atapnya menjulang tinggi yang mencerminkan sikap masyarakat Ponorogo yang gagah dan berani. “Rumah ini memiliki tiga bangunan utama, dan satu bangunan pendamping. Bangunan utama ada ruang tamu, ruang keluarga dan ruang penyimpanan, dan ruang pendamping itu dapur atau biasa disebut pawon kalau orang Jawa,” cakapnya.

Geber, pembatas ruang tengah rumah joglo

Memasuki bangunan utama, terdapat material struktur dan konstruksi kayu jati, atau lebih sering dikenal dengan istilah geber atau gebyok sebagai penanda pembatas antar ruangan. “Material atap terlihat, karena tidak adanya eternit, ini yang menarik. Sehingga, penghuni tetap merasa nyaman dengan atap yang tinggi,” tuturnya.

Partimah juga mengatakan, untuk menjaga atap rumah joglo yang tinggi menjulang, diperlukan banyak soko atau tiang penyangga yang berasal dari material jati, yang hingga kini juga masih tetap utuh meski sudah menempuh waktu bertahun-tahun. Soko guru ini juga sering disebut sebagai songgo uang yang fungsinya sebagai penguat konstruksi atap. “Bentuk konstruksi atap disebut blandar, dan terdapat dadak wesi untuk menggantung lampu. Blandar ini harus bertumpangan. Inilah yang disebut tumpang sari. Jika tumpang sari tinggi, menunjukkan derajat dari pemilik rumah yang seorang priyayi atau bangsawan Jawa,” katanya.

Ruang utama rumah joglo

Masuk ke dalam ruang tengah, ada ruang yang disebut Pringgitan, yang difungsikan sebagai ruang keluarga dan senthong atau kamar. Dan, terakhir ruang ketiga difungsikan pemilik sebagai tempat penyimpanan, biasanya untuk menyimpan panen hasil sawah seperti padi atau jagung. “Lalu, ada dapur dan kamar mandi sebagai ruang pendamping di rumah kami,” pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Charolin Pebrianti

Komentar