Tabur Puja dan Pariwisata Danau Singkarak

0
14

JUMAT, 31 MARET 2017

SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Meski cuaca terik, tidak menghalangi nelayan danau untuk menarik depa demi depa jaring yang ditabur di perairan dangkal. Terkadang, beberapa tarikan ikut terbawa ikan bilih [ikan khas Singkarak], terkadang hanya tarikan kosong. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus mengais rezeki.

Seorang nelayan danau sedang mengangkat jaring.

Aktivitas nelayan danau tersebut cukup menarik perhatian Tim Cendana News yang tengah berkunjung ke Danau Singkarak, Kabupaten Solok. Salah satu objek wisata yang terbilang populer baik nasional maupun mancanegara. Pesona siang dengan teriknya begitu terasa, kerongkongan yang kering menjadi segar dengan ditemani segelas jus dari warung kaki lima dan sepiring pensi [kerang air tawar] yang begitu menggiurkan.

“Kita juga menyalurkan dana pinjaman untuk nelayan danau, uang tersebut digunakan untuk memperbaiki perahu yang bocor dan juga jaring,” celetuk Penanggungjawab Posdaya Dermaga, Yurnalis (58) yang mengagetkan Cendana News dari keterpesonaan keindahan Danau Singkarak.

Memang, sangat penting, obyek wisata didukung oleh pelaku pariwisata. Hal itu bukan hanya dari pengelola (pemerintah) namun juga diikuti dengan kekhasan pekerjaan hingga budaya setempat. Posdaya Dermaga di bawah naungan Koperasi KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri secara langsung memang tidak terlibat dalam pariwisata. Namun, secara tidak langsung, pihaknya ikut menyukseskan pelaku pariwisata yang berada di sekitar dermaga, mulai dari pedagang kaki lima, pedagang makanan tradisional hingga nelayan danau.

Aktivitas nelayan yang menangkap bilih menggunakan pukat menjadi daya tarik tersendiri, namun jika perahu bocor atau jaring rusak, tentunya memerlukan dana untuk memperbaiki. Selain itu, hasil tanggakapannya pun menjadi salah satu makanan khas yang dapat dijadikan oleh-oleh bagi pengunjung.

“Ikan bilih sangat digemari oleh wisatawan, bahkan sampai ke luar daerah,” sebut Ni Yur, sapaan akrabnya.

Wilnida, Afri Yeni, Yurnalis, dan Mis Putri Riza.

Dari penangkap ikan, ikan dijual ke pembeli yang biasanya diolah lagi, dan ini juga menjadi sasaran dari Tabur Puja. Penjual ikan bilih di pasaran pun mendapatkan aliran dana pinjaman yang digunakan untuk membeli bahan baku hingga perangkat pengolahan dan dijual lagi dalam kemasan siap makan.

Belum lagi keterlibatan Tabur Puja dalam mendukung perekonomian warga sekitar yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima. Dengan pinjaman awal Rp2 juta hingga Rp4 juta, sudah dapat menambah isi warung dan ragam dagangan sehingga wisatawan yang membeli juga dapat memilih sesuai dengan seleranya.

Mis Putri Riza yang berjualan minuman segar sejak 2013 mendapatkan aliran pinjaman untuk menambah ragam dan perangkat dagangnya. Dengan adanya tambahan modal, ia dapat menyediakan permintaan pembeli yang kebanyakan wisatawan.

“Kebanyakan pembeli merupakan wisatawan yang berkunjung,” sebutnya.

Begitu juga dengan Afri Yeni (36), pedagang pensi [kerang air tawar] yang diolah dengan bumbu tradisional juga menjadi menu menarik lainnya yang dijajakan kepada pengunjung. Tidak ketinggalan Wilnida (48) yang saat ini memasuki pinjaman kelima sudah mampu mandiri dengan dagangan yang bermacam-macam, seperti mie rebus, kelapa muda, cemilan dan sebagainya.

Hadirnya Tabur Puja di sekitar danau ikut membantu perekonomian warga sekitar dan secara tidak langsung ikut menyemarakkan pariwisata di obyek yang menjadi brand dalam olahraga skala internasional tersebut.

Tenda yang diperuntukkan bagi wisatawan menikmati keindahan Danau Singkarak.

“Tidak hanya itu, Tabur Puja juga ikut menekan rentenir yang banyak berkeliaran di daerah tersebut,” tutup Ni Yur sambil tersenyum simpul.

Jurnalis: ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: ME. Bijo Dirajo dan Tabur Puja Solok

Komentar