UGM Yogyakarta Gelar Kompetisi Kewirausahaan Sosial

0
12

SELASA, 21 MARET 2017

YOGYAKARTA — Bonus demografi sebesar 26 persen penduduk usia muda produkif yang dimiliki Indonesia, merupakan sebuah potensi besar tumbuhnya pemimpin sosial di tingkat lokal yang menjadi modal inovasi bangsa. Bonus demografi harus dimanfaatkan, agar memberikan dampak positif bagi kemajuan bangsa.

Kika: Hempri Suyatna, Erwan Agus Purwanto, Dwikorita Karnawati 

Sebagai upaya meningkatkan animo generasi muda untuk berkecimpung di dunia usaha serta memberdayakan lingkungan sekitarnya itulah, Fakultas Sosial Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarta akan kembali menggelar kompetisi kewirausahaan sosial (Sociopreneur Muda Indonesia/Soprema) kali ke dua pada 2017, ini.

Kompetisi Sosiopreneuer merupakan sebuah upaya menjaring dan menumbuhkan peran serta generasi muda, agar mau bergelut di dunia usaha. Dalam kompetisi tersebut, peserta tidak hanya dituntut mampu mempresentasikan sebuah bentuk usaha yang berorientasi kepada keuntungan semata, melainkan juga harus mampu memberikan dampak pemberdayaan masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Direktur Pelaksana Kompetisi Soprema, Hempri Suyatna, menjelaskan, Soprema juga digelar sebagai upaya memberikan solusi terhadap banyaknya masalah sosial, seperti pengangguran dan kemiskinan, karena dalam kompetisi tersebut peserta dituntut mampu memberdayakan masyarakat di sekitarnya dengan melibatkannya dalam usaha bisnisnya.

“Mengangkat tema ketahanan pangan dan ekologi pertanian, kemaritiman dan industri kreatif, kompetisi ini memiliki tujuan antara lain menumbuhkan potensi inovasi dari kalangan pemuda usia produktif, terbentuknya komunitas sociopreneur muda di Indonesia, terbukanya jaringan yang kuat dan sinergis antara sociopreneur muda dengan perusahaan, serta sebagai upaya penyemaian benih kepemimpinan pemuda di daerah,” katanya, di Gedung Fakultas Ilmu Sosial Politik, Kampus setempat, Selasa (21/3/2017).

Sementara itu, Dekan Fisipol UGM, Dr. Erwan Agus Purwanto, mengatakan era perkembangan dunia teknologi yang begitu pesat akan menunculkan berbagai tantangan sekaligus persoalan sosial yang semakin kompleks di masa atang. Revolusi digital yang terjadi saat ini, jika tak bisa dibendung, menimbulkan pergeseran kehidupan di masyarakat. “Sehingga, salah satu upaya yang harus dilakukan saat ini adalah menyiapkan wirausahawan muda yang maju dan menjadi solusi bagi masyarakat. Seperti lewat Soprema ini,” katanya.

Rektor UGM, Prof. Dwikorita Karnawati, menambahkan, sebagai universiatas kerakyatan, UGM selama ini terus berupaya mengembangkan dan menumbuhkan generasi muda produktif dengan karakter yang tangguh. Hal itu dilakukan melalui sejumlah program unggulan, baik lewat pendidikan teori di kampus maupun unit-unit kegiatan yang ada. Ajang kompetisi Soprema dinilai merupakan salah satu bentuk atau upaya mewujudkan hal tersebut.

Tak jauh berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, Kompetisi Soprema membuka kesempatan bagi pemuda usia 16-30 tahun dari seluruh Indonesia yang memiliki gagasan atau usaha sociopreneur. Jika pada penyelenggaraan sebelumnya kompetisi ini hanya dibagi dalam 1 kategori, maka pada tahun ini kompetisi dibagi dalam 2 kelas, yakni Kick-Off atau usaha di bawah 1 tahun, dan Start-Up atau usaha antata 1-3 tahun.

“Tahun lalu jumlah peserta mencapai sekitar 500 peserta. Tahun ini kita menargetkan bisa mencapai 800 peserta. Dari jumlah itu, nantinya akan kita ambil sebanyak 90 peserta terdiri atas 50 tim dari kelas kick-off dan 40 tim dari kelas start-up. Pendaftatan sendiri akan dimulai pada 15 Maret hingga 31 Mei secara online, dengan seleksi awal pada Juli mendatang dan dilanjut pada babak semi final dan final pada Oktober. Dari total peserta, nantinya akan diambil lima pemenang di setiap kelasnya, dan akan diumumkan pada puncak acara pada, 12 Oktober 2017,” pungkas Hempri.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar