Demi Masyarakat, Mengundurkan Diri dari Manajer Bank

0
16

SABTU, 1 APRIL 2017

PADANG —  Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Menduduki jabatan sebagai manajer bank di salah satu perusahaan bank yang ada di Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar), bukan berarti membuat Edi Suandi merasa posisi itu pas bagi dirinya. Aturan dan cara pengelolaan bank yang ia jalani seakan melawan dengan batinnya. Hal inilah yang menjadi alasan utama bagi Edi untuk meninggalkan kursi manajer.

 Edi Suandi

Persoalan ini muncul, melihat prosedur dan persyaratan yang telah diterapkan oleh perbankan tersebut, apabila ada masyarakat yang mengajukan pinjaman modal usaha. Seperti soal jaminan pinjaman, bunga pinjaman, dan belum lagi soal rentenir. Hal demikian yang membuat batinnya tidak kuat menahan melihat masyarakat yang membutuhkan pinjaman modal usaha. Tapi mendapatkannya kesulitan untuk memperoleh pinjaman itu. Belum lagi ada masyarakat yang memang berniat membuka usaha baru, namun semakin mendapat kesulitan untuk mendapatkan pinjaman modal usaha.

“Ya, ada sekitar tiga tahun saya menjadi manajer di salah satu bank di Solok itu. Saya telah mencoba untuk bertahan, tapi yang namanya batin menolak melihat situasi yang ada. Saya pun memilih untuk mengundurkan diri. Memilih untuk mencari pekerjaan lain. Hal ini saya lakukan, karena masyarakat, saya sedih melihat masyarakat seperti mengemis untuk mendapatkan pinjaman bank,” ucapnya, Sabtu (1/4/2017).

Kondisi yang ia hadapi itu, memang membuatnya tidak bisa berbuat banyak, karena yang namanya perbankan ada aturan dari direktur atau petinggi perbankan lainnya. Sehingga seorang manajer tidak bisa mengubah ketentuan dalam perbankan yang dijalani. Menurut Edi, yang namanya bank perkreditan rakyat, tidak harus mengutamakan jaminan pinjaman, apalagi tujuan pinjaman yang dilakukan untuk masyarakat itu untuk membuka usaha baru. Jadi, ia menilai  tidak seharusnya meminta jaminan pinjaman atau bahkan syarat pinjaman modal usahanya harus merupakan usaha yang dijalani minimal dua tahun.

“Mereka kan ingin membuka usaha baru, sementara syaratnya, usaha yang dijalani minimal dua tahun. Jika begini, kapan masyarakat memiliki kesempatan untuk membuka usaha. Nah, ini yang saya maksud, kondisi yang demikian melawan batin,” tegasnya.

Namun, setelah ia mengundurkan diri dari kursi manajer, kini Edi Suandi memilih untuk mengembangkan sayap bersama Yayasan Damandiri. Saat ini jabatan yang ia pegang adalah Project Management Unit (PMU) Tabur Puja Yayasan Damandiri, Supervisor Wilayah Area V Sumatera Barat. Alasan Edi memilih untuk Yayasan Damandiri ini, karena aturan, cara pengelolaannya, dan hal sebagainya, benar-benar sesuai dengan batinnya, yakni membantu masyarakat untuk memperbaiki ekonomi kehidupan melalui membuka usaha. Mengingat segala hal yang ada di perbankan yang dulu ia jalani itu, berbeda 100 persen dari hal yang dilakukan oleh Yayasan Damandiri.

“Di Yayasan Damandiri, saya menemukan apa yang harus dilakukan untuk membantu masyarakat. Karena di Yayasan Damandiri melalui Unit Tabur Puja yang ada di setiap Posdaya, tidak menerapkan persyaratan harus punya jaminan pinjaman, tidak ada rentenir, dan tidak ada soal bunga pinjaman yang tak jelas. Namun, Yayasan Damandiri ini, benar-benar menjadi lembaga sosial yang hadir untuk membantu masyarakat, dan bukan untuk mempersulit masyarakat,” ujar Edi.

Di masa hampir empat tahun mengemban jabatan sebagai Supervisor Wilayah V Sumbar, bukan berarti membuat Edi merasa ia telah memiliki segala-galanya. Buktinya, aktivitas hari demi hari yang dilaluinya, hanya ditemani dengan motor butut masuk nagari keluar nagari yang ada di Kabupaten Solok dan Kota Padang. Itu adalah rute perjalanan yang harus dijalaninya sebagai supervisor.

Namun untuk menuju Kabupaten Solok, Edi memilih untuk menaiki angkutan umum, dan setiba di Kabupaten Solok ia meminta bantuan kepada Manajer KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok untuk menemani melihat perkembangan Posdaya di pelosok-pelosok nagari.

“Saya benar-benar menikmati pekerjaan ini, melihat masyarakat atau nasabah Tabur Puja yang tersenyum saat membayarkan pinjaman kreditnya, dan semangat dalam menjalankan usahanya,  membuat saya turut bahagia. Meski motor butut, tapi ke mana-mana kendaraan itulah yang menemani saya melihat langsung kondisi masyarakat yang memanfaatkan adanya Tabur Puja ini,” katanya sembari tesenyum.

Ke depan, cita-cita terbesarnya, ingin membuat BOM (Bank Orang Miskin). Hal itu berawal dari kegelisahan hati dan keprihatinan melihat kondisi perekonomian masyarakat yang seperti dipinggirkan oleh pemerintah. Menurut Edi, perlu ada program yang pas untuk membantu masyarakat yang demikian. Ia mengakui pemerintah telah memiliki sejumlah program untuk masyarakat yang dimaksudkannya, namun belum menyentuh secara maksimal, dan bahkan hanya sebagian kecilnya saja.

Edi Suandi saat mengendarai motor bututnya, ketika mendatangi Posdaya Sejahtera di Kelurahan Gates Nan XX Padang.

“Membuat BOM benar-benar suatu cita-cita saya dan bukan untuk saya, tapi BOM itu saya hadirkan untuk masyarakat,” tutupnya.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Muhammad Noli Hendra

Komentar