Djoko, Ingin Kenalkan Kesenian Tradisi Sejak Dini

0
14

JUMAT, 7 APRIL 2017

MALANG — Kecintaannya terhadap kesenian dan keinginannya untuk mengenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda, membuat Djoko Rendy, seorang perajin replika Topeng Malangan terus berinovasi menciptakan replika Topeng Malangan dari bermacam jenis bahan sejak sekitar empat tahun, lalu.

Djoko Rendy dan karyanya

Beberapa bahan lain yang pernah digunakan Djoko adalah kayu, fiber, kertas, besi, semen, hingga cor beton. Tujuan dibuatnya replika Topeng Malangan dari berbagai jenis bahan tersebut dilandasi keinginan untuk melestarikan sekaligus mengenalkan kesenian tradisional sejak dini kepada generasi muda. “Saya beranggapan, Topeng  Malangan ini tidak hanya sekedar bisa digunakan untuk menari, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai sovenir dan untuk bahan pembelajaran, sehingga sejak dini anak-anak kita nanti bisa mengetahui salah satu bagian seni budaya tradisi itu sendiri,” jelasnya, kepada Cendana News, saat memamerkan karyanya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang.

Menurut Djoko, seni Topeng Malangan memiliki banyak karakter yang keseluruhannya terdiri dari kurang lebih 76 karakter. Namun, jumlah karakter Topeng Malangan di setiap daerah berbeda-beda. Seperti di daerah Jabung, hanya ada 14 karakter, sedangkan di daerah Tumpang ada 43 karakter. Namun, dari sekian banyak karakter tersebut, Djoko hanya mengambil 6-12 karakter yang mewakili untuk dibuat replikanya. “Saya banyak mengumpulkan topeng dari beberapa senior perajin topeng, seperti Mbah Karimun, tapi tidak untuk dijual, hanya untuk koleksi pribadi. Jadi, saya hanya menjual atau menerima order membuat topeng replika, karena saya sendiri menyadari, bahwa saya bukan lahir dari keluarga perajin topeng maupun kesenian topeng,” ucapnya.

Harga topeng replika yang dijual Djoko bermacam-macam, mulai dari harga Rp10 ribu dapat 3 dalam bentuk gantungan kunci dari bahan fiber, hingga ratusan ribu rupiah tergantung bahan dasarnya. Untuk bahan dari besi, rata-rata harganya Rp350 ribu.

Selain itu, Djoko juga mengaku bisa membuat topeng untuk menari. Tetapi, karena ia berangkat bukan dari penari topeng atau perajin topeng, Djoko membuat topeng berbahan kayu dari hasil modifikasinya sendiri, namun acuannya tetap pada  topeng asli milik para senior perajin topeng atau pini sepuh.

“Saya punya harapan, ke depan di Malang setidaknya di tempat-tempat keramaian, entah itu di restoran, taman wisata, atau di kafe, pokoknya di tempat keramaian itu ada semacam identitas kesenian tradisi yang salah satunya adalah Topeng Malangan. Sehingga, betul-betul sejak dini kesenian tradisi daerah ini bisa dikenal oleh generasi muda,” harapnya.

Djoko juga mengatakan, jika ia tidak anti kesenian manca negara, tapi jangan sampai kesenian-kesenian tradisi justru tergusur karena banyak anak-anak yang belum paham tentang kesenian tradisi. Setidaknya, jika sejak dini mereka sudah mengenal, maka budaya sendiri tidak kalah dengan seni budaya manca negara.

Beragam Topeng Malangan buataan Djoko Rendy yang dipamerkan

Djoko berharap penuh, bisa mendapat dukungan dari para penggiat seni seperti tokoh masyarakat, akademisi maupun pemerintah, agar kesenian tradisi bisa memasyarakat.  “Sebuah wilayah atau negara itu besar, karena budayanya. Dan, saya hanya sebagian kecil saja di bidang keseniannya,” ujarnya.

Sementara itu, dalam pameran tersebut, Djoko juga memamerkan karya patung tokoh Sekartaji berukuran besar yang terbuat dari semen. Patung  topeng tersebut dalam pembuatannya menghabiskan semen  sekitar 4 sak dengan lama pembuatan tiga bulan. Selain mengikuti pameran-pameran, Djoko juga memiliki sebuah geleri ‘Kedai Seni Malangan’ yang berlokasi di Pusat Studi Kendedes di Jalan Raya Singosari.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Agus Nurchaliq

Komentar