Komunis Gaya Baru, harus Diwaspadai

0
15

SABTU, 8 APRIL 2017

SLAWI — Menyikapi isu kebangkitan komunisme, Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Tegal, mengadakan dialog kebangsaan di Gedung Pertemuan PMI Kabupaten Tegal, Sabtu  (8/4/2017).

Dialog Kebangsaan di PD Muhmmadiyah Tegal

Menghadirkan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Tegal, Dahnil Anzar Simanjuntak, dan Komandan KODIM 0712 Tegal, Letkol. Kav. Kristiyanto,S.Sos., acara dialog tersebut dihadiri kalangan pemuda, dan pelajar, dari berbagai organisasi. Dialog kebangsaan ini diadakan sebagai upaya membentengi generasi muda, khususnya di Kabupaten Tegal, atas kebangkitan paham komunisme yang kian hari kian terasa kehadirannya di beberapa daerah di Indonesia.

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Tegal, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan, komunisme merupakan bahaya laten yang harus diwaspadai kebangkitannya, tapi bukan harus ditakuti selayaknya hantu yang mengerikan. Sebagai upaya untuk membentengi hal tersebut, sudah selayaknya pemuda Muhammadiyah hadir dalam setiap permasalahan umat dan bangsa. Karena selama ini yang menjadi bibit-bibit komunisme adalah kemiskinan dan kebodohan serta ketidakadilan. “Karenanya, cara menangkal kebangkitan komunisme adalah dengan menghadirkan kembali cara dakwah Kyai Ahmad Dahlan, dengan mengentaskan kemiskinan serta memberantas kebodohan,” ujar Danhil.

Sementara itu, Letkol. Kristiyanto, mengatakan, paham komunisme merupakan bahaya laten yang harus terus diwaspadai kebangkitannya. Karena beberapa tahun terakhir, banyak komunis gaya baru (KGB) yang perlahan menyusup dalam kehidupan masyarakat. Menyusupnya paham komunis dalam kehidupan masyarakat sangat halus dan tidak kentara, sehingga terkadang masyarakat susah untuk membedakan, antara komunis dan bukan.

Ditambahkan pula, jika perjuangan komunis tidak pernah mengenal kalah, tapi tertunda. Karena itu, tetap harus diwaspadai. Bentuk sosialisasi kepada generasi penerus bangsa terkait bahya komunis juga harus terus dilakukan, jangan sampai generasi muda tidak paham tentang sejarah komunisme. “Selama ini, komunisme disebut bahaya laten karena merupakan bahaya yang sewaktu-waktu bisa timbul. Jika sekarang komunis sedang disorot, maka mereka (komunis) akan tiarap dan diam, tapi saat semua terlena maka mereka akan kembali bangkit menyebarkan paham komunis,” katanya.

Kristiyanto juga menilai, penghapusan film G 30 S/PKI merupakan upaya pengaburan informasi tentang paham komunis, “Jika itu memang sejarah dan sebuah fakta kebenaran, kenapa film tersebut harus dihapus? Harusnya tetap ditayangkan, agar generasi muda paham fakta sejarah kekejaman komunis, jangan dibalik-balik kalau komunis itu korban dan Pemerintah yang salah harus minta maaf,” ujar Kristiyanto.

Sementara itu, selaku pengurus PC Pemuda Muhammadiyah, Warsono, S.Pd., mengatakan, dialog kebangsaan untuk membentengi generasi muda dari bahaya komunisme harus gencar dilakukan oleh berbagai elemen organisasi. Karena beberapa pelajar dan mahasiswa sekarang sudah tidak paham lagi dengan apa itu komunisme. Jika tidak ada pemahaman yang benar tentang sejarah, dikhawatirkan generasi muda akan menerima kebangkitan paham komunis yang merupakan bahaya laten bagi kehidupan bangsa dan negara.

Jurnalis: Adi Purwanto/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adi Purwanto

Komentar