Prajurit Penjaga Teras NKRI, pun Bisa Berkarya Kerajinan

0
17

SABTU, 1 APRIL 2017

JAYAPURA — Tentara Nasional Indonesia, tak putus akal dan tak hilang ide saat mengisi jam kosong di penugasannya menjaga perbatasan wilayah antara Republik Indonesia (RI) dan Papua New Guinea (PNG). Mereka mengisi waktu luangn dengan membuat berbagai kerajianan berbahan kayu dan papan.

Prajurit TNI menunjukkan hasil karya kerajinannya

Kaligrafi, papan nama kantoran maupun papan dinding serta kerajinan tangan bercorak cenderawasih, dibuat oleh para prajurit Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-PNG  Yonif Mekanis 516 Charaka Yhuda di Markas Kotis (Komando Taktis) di Kampung Wonorejo, Distrik Manem, Kabupaten Keerom, Papua.

Berbagai kerajinan tangan itu semula hanya dilakukan untuk mengusir kejenuhan, saat melepas piket jaga maupun bertugas menjaga keamanan di wilayah perbatasan RI-PNG. Tak terpikir di benak mereka, karya-karya itu ternyata menarik perhatian. Tak sedikit karya mereka dipesan sejumlah orang dari dalam satuan militer yang ada di internal Kodam XVII Cenderawasih, maupun masyarakat sekitar tempatnya bertugas.

“Untuk mengisi waktu luang, kami melakukan hal positif seperti ini. Paling utama kegiatan kerajinan tangan yang terbuat dari kayu, ini juga mencegah seorang prajurit melakukan pelanggaran,” kata Perwira Seksi (Pasi) Hukum Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 516/CY, Lettu Chk Yufi Mufriyatna, Sabtu (1/4/2017).

Dikatakan Yufi, kerajinan yang dibuatnya mulai dari motif-motif asal Papua, bingkai foto maupun lainnya, juga gantungan papan nama serta kaligrafi. Hal tersebut, merupakan salah satu nilai tambah bagi prajurit-prajurit yang mengemban tugas menjaga kedaulatan bangsa di teras Negara Indonesia. “Karya kami ini sudah dipesan rekan-rekan satuan. Selama ini sudah kami jual hanya sesama teman-teman satgas saja,” tuturnya.

Menurut Lettu Chk Yufi Mufriyatna, harga karya mereka bervariasi, mulai dari Rp150-Rp500 ribu. Pembuatannya sendiri tak lama. Bila cuaca bagus, satu-dua hari bisa selesai dikerjakan. “Kalau cuaca hujan berarti agak lama, karena harus mengunggu catnya kering dulu, baru proses telah selesai dengan maksimal,” ujarnya.

Pihaknya juga memberikan pelatihan kerajinan tangan ini kepada warga sekitar kampung Wonorejo, yang nantinya warga ini dapat membentuk sebuah kelompok kerajinan tangan, agar kemudian hari karya mereka dapat dijadikan nilai tambah ekonomi. “Semoga nantinya ini menjadi salah satu usaha kerajinan yang dapat diperoleh masyarakat sekitar perbatasan,” ujarnya.

Pasi Hukum Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 516/CY, Lettu Chk Yufi Mufriyatna

Sementara, Prada Elkana Trapen, mengatakan baru belajar membuat karya-karya tersebut. Ia mengaku secara perlahan diajari dari senior-senior dan berlatih otodidak. “Saya isi waktu kosong belajar ini dan juga nantinya kalau sudah bisa sepenuhnya, pastinya akan saya ajarkan juga kepada masyarakat, pertama ke keluarga dulu,” kata Prada Elkana Trapen.

Bahan dasar kerajinan tangan ini bermacam-macam, mulai dari kayu putih seperti berbau, susu dan kayu jati. Sedangkan kayu besi agak susah dikerjakan, karena kayu tersebut memakan mata gergaji cukup banyak.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta

Komentar