Rakyat Kecil Terbantu Jika Sistem Tabur Puja Diterapkan Perbankan

0
15

SENIN, 3 APRIL 2017

PADANG — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sistem yang diterapkan oleh Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) dinilai suatu rancangan yang berpihak kepada masyarakat yang kurang mampu, bahkan Tabur Puja juga disebut sebuah program sosial.

Supervisi Damandiri Area V Sumatera Barat, Edi Suandi.

Supervisi Damandiri Area V Sumatera Barat, Edi Suandi, menjelaskan, Tabur Puja merupakan sebuah program yang dilahirkan oleh Yayasan Damandiri untuk memberikan pinjaman modal usaha bagi masyarakat yang kurang mampu. Pinjaman yang diberikan, tanpa ada jaminan dan syarat yang rumit seperti yang diterapkan di perbankan.

Edi menyebutkan, sistem dalam Tabur Puja benar-benar berbentuk sosial sehingga pinjaman modal usaha yang diberikan lahir dari kejujuran nasabahnya dalam hal membayarkan pinjaman modal usahanya sehingga aspek NPL (Non Performing Loan) adalah 0 (nol). Hal ini dikarenakan, pinjaman yang diberikan tidak hanya sekadar modal usaha, tapi juga diiringi dengan pembinaan serta menjalin silaturahmi antara Tabur Puja dengan nasabah.

“Syaratnya pun tidak sesulit yang diterapkan dalam perbankan, seperti usaha yang dijalani harus minimal dua tahun, harus ada jaminan seperti surat kendaraan, atau bahkan surat berharga lainnya. Lalu ada pula, sikap rentenir yang membuat nasabah merasa takut. Nah, di Tabur Puja, kebalikan dari hal-hal itu, tidak ada syarat lama usaha yang dijalani, boleh usaha baru, syaratnya hanya KTP dan keterangan dari kelurahan serta tidak ada surat menyurat jaminan lainnya,” jelasnya di Padang, Senin (3/4/2017).

Menurut Edi, dengan sistem yang demikian sangat membantu masyarakat yang benar-benar mengharapkan adanya pinjaman modal usaha yang mengharapkan kepercayaan dari pihak yang meminjamkannya. Buktinya, hingga saat ini sudah ada ribuan nasabah Tabur Puja di Sumatera Barat (Sumbar) yang berada di di Kota Padang dan Kabupaten Solok, bisa dikatakan NPL-nya tidak ada.

“Sementara jika dilihat dari sistem yang diterapkan oleh perbankan, meski jaminan yang begitu besar dari nasabah dan syarat-syarat lainnya sebagai pertimbangan bahwa kreditnya lancar, tapi buktinya, NPL-nya pun tinggi. Tidak sebanding dengan NPL Tabur Puja yang sistemnya tidak menilai seseorang itu mampu atau tidak membayarkan pinjaman kreditnya,” ucapnya.

Edi menilai, jika sistem yang dijalankan oleh Tabur Puja ini ada di perbankan yang memiliki dana besar ketimbang yang dimiliki Tabur Puja yang hanya sekira Rp200 juta per Posdaya, maka dapat dipastikan bahwa rakyat di Indonesia bakal sejahtera. Berkat adanya pinjaman dari perbankan yang tidak membuat nasabah merasa dibebani.

Selain itu, Edi melihat, hal nyata yang telah dilakukan oleh Tabur Puja seperti di Sumbar ini, seakan tak begitu diperhatikan oleh pemerintah setempat. Ia beralasan, jika pemerintah melihat secara serius perkembangan nasabah Tabur Puja dan pertumbuhan usaha yang dijalani oleh nasabah Tabur Puja selama ini, pemerintah pasti merasa sistem Tabur Puja sangat patut untuk dipelajari untuk mensejahterakan rakyat.

“Bukankah selama ini pemerintah mencita-citakan mensejahterakan rakyatnya? Jika iya, silakan jika ingin mempelajari sistem Tabur Puja dan saya siap untuk membantu itu, karena bagi saya membantu masyarakat adalah hal yang terpenting,” tegasnya.

Edi berpandangan, bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) memiliki peluang untuk menjalankan sistem Tabur Puja tersebut. Karena bakal mendapatkan dukungan dari Presiden Joko Widodo jika itu soal bank BUMN dan BUMD akan mendapatkan dukungan juga dari kepala daerahnya.

Sebagai supervisi, Edi menyatakan, siap membantu pemerintah untuk bersama-sama membantu masyarakat dalam memberikan kemudahan memberikan pinjaman modal usaha dan menghilangkan sistem yang menyulitkan masyarakat serta juga merugikan perbankan.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Muhammad Noli Hendra

Komentar