Dampak Pembangunan Bandara Baru, Lahan Perikanan Kulonprogo Susut 45 Hektar

0
21

SABTU, 6 MEI 2017

YOGYAKARTA — Kepala Bidang Pembudidayaan Ikan, Dinas Perikanan Kelautan Kabupaten Kulonprogo, Ir Leo Handaka, menyebut selama 2016 lalu, luas lahan perikanan di Kabupaten Kulonprogo menyusut hingga 45 hektar. Penurunan luas lahan perikanan itu diduga sebagai dampak pembangunan bandara internasional baru Yogyakarta di Kecamatan Temon, Kulonprogo. 

Leo Handaka (kiri) dan Titiek Soeharto (kanan) dalam kegiatan Temu Lapang di Kelompok Pembudidaya Ikan, Argo Mino.

Tanpa upaya peningkatan produksi, baik berupa penambahan lahan atau upaya lainnya, penurunan luas lahan perikanan tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi capaian produksi perikanan di Kabupaten Kulonprogo pada 2017 ini.

Pada 2016 lalu, Kabupaten Kulonprogo sendiri mampu memproduksi sekitar 13 ribu ton ikan sekaligus menjadi penyangga kebutuhan ikan di DIY.

“Untuk meningkatkan produksi perikanan di Kulonprogo kita membutuhkan dukungan dari pemerintah pusat. Tanpa adanya bantuan tentu akan sulit. Karena itu kita berharap pada ibu Titiek Soeharto sebagai wakil ketua Komisi IV DPR, agar dapat menambah alokasi bantuan di bidang perikanan di masa yang akan datang,” ujar Leo dalam kegiatan Temu Lapang di Kelompok Pembudidaya Ikan, Argo Mino, Sentolo Lor, Sentolo, Kulonprogo, Jumat (05/05/2017).

Dia mengatakan pada 2016 lalu, melalui ibu Titiek Soeharto, kabupaten Kulonprogo sendiri telah mendapat 6 paket bantuan sarana dan prasarana budidaya perikanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan di tiga wilayah kecamatan yakni Sentolo, Wates dan Panjatan. Sejumlah bantuan tersebut telah dimanfaatkan dan dikembangkan oleh setiap Pokdakan, dengan sebagian di antaranya telah berhasil melakukan panen.

“Kita berharap adanya dukungan dan bantuan pengembangan budidaya perikanan melalui sistem mina padi. Karena kita memiliki sekitar 5 hektar lahan pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan sistim mina padi. Yakni di Kecamatan Nanggulan, Galur dan Lendah. Sebenarnya tahun lalu kita sudah mengajukan permohonan bantuan ke pusat, namun sampai saat ini belum bisa terealisasi,” katanya.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto SE, yang hadir ke Desa Sentolo Lor mengaku akan menyerap dan menyampaikan setiap aspirasi warga masyarakat untuk diteruskan ke pemerintah pusat.

Titiek mengatakan sektor budidaya perikanan harus terus dikembangkan karena memiliki prospek yang sangat baik. Selain memiliki siklus produksi yang singkat, budidaya perikanan juga sangat menguntungkan bagi warga karena mampu menghasilkan keuntungan mencapai 40-50 persen.

“Pengembangan budidaya perikanan ini harus diikuti dengan kegiatan peningkatan kualitas pembudidaya. Salah satunya melalui pelatihan-pelatihan mulai dari soal pembenihan, pembesaran, panen hingga pengolahan pasca panen dan pemasaran. Diharapkan pengembangan budidaya perikanan ini dapat menarik minat generasi muda untuk ikut terjun ke bidang perjkanan. Dan yang terpenting bisa memberi tambahan penghasilan bagi warga sekaligus meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat,” ujarnya.

Suasana kunjungan Ttiitek Soeharto di Desa Sentolo Lor.

 Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana
Source: CendanaNews

Komentar