Heri dan Fitri, Mendaki dengan Hati, Temukan Tambatan Hati

0
22

SELASA, 16 MEI 2017

LAMPUNG — Bagi Heri Fulistiawan (28), mendaki gunung merupakan hobi sekaligus panggilan hati. Tercatat puluhan gunung yang ada di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa didakinya sejak tahun 2007 saat dirinya masih menempuh pendidikan di bangku sekolah hingga dirinya mulai menekuni dunia kerja.

Heri dan Fitri dalam sebuah pendakian.

Keinginan untuk mendaki gunung diakuinya bermula saat dirinya mulai aktif dalam kegiatan pecinta alam di sekolah dan juga saat kuliah. Selain itu dengan adanya beberapa gunung di Provinsi Lampung yang kerap menjadi lokasi pendakian gunung pecinta kegiatan alam di antaranya Gunung Tanggamus di Kabupaten Tanggamus, Gunung Pesagi, Gunung Rajabasa, Gunung Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan serta beberapa gunung yang justru banyak didaki oleh pecinta alam dari wilayah luar Lampung.

Heri menyebut, kegiatan alam bebas merupakan sebuah hal yang menyenangkan terutama aktivitas tersebut dilakukan bersama dengan rekan-rekan sesama penghobi mendaki gunung. Laki-laki yang sempat tinggal di Kota Bandarlampung dan jarang menjumpai gunung-gunung tinggi tersebut bahkan harus rela merogoh kocek untuk meniatkan diri mendaki beberapa gunung di Lampung bersama teman-temannya. Medan sulit dengan perjalanan yang menantang terkadang harus tidur di terminal saat proses perjalanan sekaligus rencana yang matang dengan harus menabung berbulan-bulan mengumpulkan uang bersama kelompok yang kala itu belum memiliki penghasilan tetap.

“Solidaritas atau kebersamaan bagi para pendaki atau kelompok pecinta alam yang selalu membuat saya merasa mendaki gunung merupakan satu kegiatan positif, sama-sama dipikul dan kebersamaan tersebut masih tetap ada bahkan hingga kini meski kami sudah memasuki dunia kerja,” terang Heri Fulistiawan, salah satu anggota pecinta alam asal Kalianda Lampung Selatan, penyuka pendakian gunung saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (16/5/2017).

Suasana berkemah.

Heri mengakui, mencintai gunung merupakan aktivitas mencintai alam yang cukup menantang karena selain menghadapi rintangan pribadi dirinya bisa ikut merasakan rintangan yang dialami oleh anggota kelompok. Beberapa rintangan tersebut berupa medan yang terjal seperti Gunung Tanggamus di Kabupaten Tanggamus dengan banyaknya pacet dan licin di jalur pendakian pada gunung setinggi 2.102 Mdpl serta beberapa gunung lain. Kecintaanya pada gunung sengaja ia manfaatkan waktu saat dirinya masih jomblo atau membujang sehingga bisa mendaki beberapa gunung lain di Pulau Jawa di antaranya Gunung Merapi, Gunung Salak, Gunung Gede Pangrango serta beberapa gunung lain.

Mendaki banyak gunung bagi Heri bukan sebuah kebanggaan atau sebuah tujuan. Ia menyebut mendaki gunung memiliki filosofi syarat makna di antaranya dengan proses pendakian gunung yang membutuhkan perjuangan dirinya bisa menghargai arti kehidupan. Arti kehidupan yang bisa disadari bagi diri sendiri dan juga bagi sesama pendaki dengan memiliki banyak saudara, mendekatkan diri dengan Tuhan sebagai makhluk yang kecil terutama saat di atas gunung. Perasaan kecil dan tak berdaya tersebut diakuinya semakin disadari saat menghadapi cuaca buruk di tengah pendakian sehingga rela berbasah-basahan bahkan harus mengalami sakit seusai mendaki gunung.

Solidaritas para pendaki yang ditunjukkan di atas gunung bahkan diakui Heri terbawa hingga saat para pendaki dan sesama pecinta alam tidak lagi mendaki. Bentuk solidaritas pendaki gunung dan pecinta alam diakuinya sudah ada sejak dirinya masih sebagai bujang, terkadang tidak memiliki uang untuk mendaki namun dengan kebersamaan terpaksa harus terlebih dahulu berjualan alat-alat pendakian berupa tas, sal serta peralatan memasak dan terkadang mengamen di jalan. Laki-laki yang mengaku kerap galau dan bingung saat akhir pekan tersebut mengaku mendaki gunung menjadi pilihan mengobati kegalauan sehingga bisa mendaki gunung bersama kawan-kawan pecinta alam dan pendaki gunung.

Fitri di puncak Kerinci.

Mulai mendaki gunung membuat dirinya pun mulai tergabung dalam organisasi Pecinta Alam Pendaki Gunung (PAPG) ARTEPAK yang beranggotakan puluhan orang pendaki gunung di wilayah Kalianda. Kecintaan dan mendaki gunung dengan hati tersebut jugalah yang mempertemukannya dengan wanita tambatan hatinya bernama Fitri (24). Wanita yang juga pecinta alam dan pecinta pendakian gunung tersebut bahkan lebih banyak mendaki beberapa gunung dari dirinya. Pertemuan dengan Fitri dalam beberapa pertemuan pendakian membuat keduanya memutuskan untuk menikah dan menjadi suami isteri.

“Saya kerap mendaki gunung di beberapa wilayah dan dipertemukan dengan Heri yang kini menjadi suami juga karena mendaki gunung bersama, kebersamaan, kepedulian dan bisa menjaga saya itu yang membuat saya memutuskan menikah dengannya,” terang Fitri.

Fitri yang menyukai dunia mendaki gunung sejak SMA hingga duduk di bangku kuliah salah satu perguruan tinggi hukum di Lampung Selatan bahkan telah menaklukkan Gunung Semeru di Jawa Timur dengan ketinggian mencapai 3.676 meter dari permukaan laut, Gunung Krakatau di Selat Sunda, Gunung Merapi dan beberapa gunung lain yang semakin menjadikannya mencintai gunung. Meski mengaku lebih banyak mendaki gunung lebih banyak dari sang suami atau bahkan sebagian gunung yang telah didaki sang suami pernah didakinya, Fitri tetap menjadi seorang wanita anggun yang kini mendampingi Heri setiap harinya.

Heri dan Fitri, dua pendaki gunung yang mengaku menjiwai semangat mencintai alam tak hanya di gunung. Keduanya bahkan mengaku mencintai dunia bahari atau laut dengan aktivitas di pantai dan juga mengikuti kegiatan pecinta alam membersihkan pantai dari sampah, menanam pohon mangrove di pesisir pantai barat dan timur Lampung. Pohon yang tumbuh, bunga yang tumbuh serta berbagai tanaman bunga bermekaran yang dijumpai dalam perjalanan pendakian gunung dan mencintai alam setidaknya menumbuhkan kecintaan pada alam dan menyuburkan benih cinta keduanya yang kini menjadi suami isteri kurang dari satu tahun terakhir tersebut.

“Mencintai alam dengan semangat perjuangan, pengorbanan serta menjadi bermanfaat bagi alam akan menjadi warisan yang berharga bagi anak-anak kami kelak,” ungkap Fitri.

Warisan yang hidup tersebut diakuinya dalam bentuk berbagai tanaman di gunung Rajabasa yang pernah ditanamnya dalam gerakan penghijauan lereng Rajabasa. Tanaman mangrove serta terumbu karang di beberapa pantai yang akan ditunjukkan kepada anak-anaknya kelak saat keduanya memiliki putera dan puteri meski keduanya kini mengaku masih belum memiliki momongan. Kecintaan alam pada gunung juga   menjadi semangat yang tetap melekat dalam kehidupan sehari-hari dengan banyaknya tanaman bunga dan berbagai tanaman lain di sekitar rumahnya.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Source: CendanaNews

Komentar