Mabes Polri Tangkap 10 Pelaku Perdagangan Orang dengan Modus TKI

0
16

RABU, 17 MEI 2017

JAKARTA — Direktorat Tindak Pidana Umum (TPPU) Bareskrim Mabes Polri terus menjalin kerja sama dengan Dirjen Binapenta, Dirjen Imigrasi, Setama BNP2TKI dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) untuk mengungkapkan kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan modus Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Penangkapan 10 orang tersangka TPPO

Kabareskrim Polri, Komjen Pol Ari Dono Sukmanto mengatakan, sejak bulan Januari ada enam laporan yang ditindaklanjuti, enam temuan telah diinvestasigasi, di antaranya ada ratusan orang yang diperdagangkan lewat Pintu Utara Kalimantan.

“Alhamdulillah semua kita tindak, korbannya ada 148 perempuan dengan tersangka 10 orang,” sebutnya di Jakarta, Rabu (17/5/2017).

Atas perbuatannya, 10 pelaku Tindak pidana perdagangan orang itu akan dikenakan UU Nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman tiga hingga 15 tahun.

Selain itu, Kabareskrim membeberkan, ada modus baru juga telah ditemukan, yaitu menggunakan travel umroh. Berangkatnya menggunakan travel, kemudian sampai negara yang dituju (Arab) pelaku menyalurkan korban itu menjadi TKI.

“Ada 286 peserta umrah tidak kembali ke Indonesia atau melarikan diri. Untuk laporan Februari, dua orang dengan modus operandi mengunakan visa kunjungan. Korbannya rata rata dari Sulawesi, NTB dan NTT,” kata Ari.

Polri terus mengupayakan dan bekerjasama dengan instansi lain untuk memberantas semua oknum oknum yang mencoba melakukan tindakan tersebut.

Pemerintah, beber Ari, Padahal sudah sejak tahun 2009 tidak lagi untuk mengizinkan pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Timur tengah. Kemudian di 2015 juga dikeluarkan peraturan penanganan dari 15 negara khususnya TKI perempuan,

“Akan tetapi kebijakan pemerintah tersebut tidak dihiraukan oleh para pelaku,” jelasnya.

Terbukti, kata Ari, di beberapa daerah di Indonesia banyak perempuan yang tidak memiliki lapangan pekerjaan, SDM terbatas, dan tingkat pendidikan masih kurang dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk memperdaya mereka, mengiming-iming satu pekerjaan layak untuk menjadi pelayan toko dan lain sebagainya.

“Faktanya mereka dipekerjakan hanya sekedar pelayan rumah tangga (PRT). Demikian juga ada yang TKI ke Saudi, akan tetapi disalurkan ke negara lain untuk dijadikan pembantu rumah tangga,” ucapnya.

Sementara itu, Dirjen Imigrasi, Maryoto menyatakan menekan TPPO,  pihaknya menganggap perlu untuk merawat peningkatan dan bersamaan melakukan pengetatan dalam proses pembuatan paspor, maupun juga dalam proses pemeriksaan keimgrasian di Bandara internasional maupun pelabuhan besar lainnya.

“Selama kurung waktu Januari sampai 12 Mei kemarin, kami telah melakukan penundaan dan pencegahan kepada 4.001 dari pemohon paspor maupun yang sudah mempunyai paspor untuk diperpanjang. 4001 itu yang kami gagalkan,” ungkapnya.

Jurnalis : Adista Pattisahusiwa / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Adista Pattisahusiwa

Source: CendanaNews

Komentar