Mahasiswa Undip, Ciptakan Cara Lindungi Hutan via Online

0
13

KAMIS, 18 MEI 2017

SEMARANG — Pesatnya teknologi internet yang berimbas terhadap pola pikir masyarakat, membuat beberapa mahasiswa Universitas Diponegoro mempunyai cara unik untuk melestarikan lingkungan, yakni dengan memanfaatkan gaya hidup yang serba online. Mereka membuat website lindungihutan.org sebagai solusi bagi masyarakat umum untuk mengetahui kondisi hutan dan kerusakan yang telah dialami.

Chashif Syadzali

Salah Satu pembuat website, Chashif Syadzali, menuturkan, latar belakang membuat website tersebut karena ia melihat sendiri banyak masalah lingkungan yang mengganggu kawasan sepanjang Pantai Semarang, kemudian hal tersebut diutarakan kepada Muhammad Mifachtur Robani dan Hario Laskito Ardi. Ketiganya akhirnya berpikir bagaimana mengajak masyarakat untuk menyelamatkan hutan yang rusak tanpa harus ‘mengganggu’ rutinitas masyarakat yang setiap hari sibuk bekerja.

Berbekal kemampuan yang dimiliki di bidang sistem informasi, akhirnya mereka bersepakat membuat website lindungihutan.org yang berisi tentang kondisi hutan di Indonesia dengan memanfaatkan perkembangan internet. Chasif beranggapan, kesadaran masyarakat akan lingkungan sebenarnya cukup tinggi, tetapi karena melestarikan hutan menyita waktu yang banyak, akhirnya dirinya mencari cara agar masyarakat bisa ikut merawat hutan dan membantu pemulihan lingkungan secara online.

“Lingdungihutan.org adalah sebuah platform crowdfunding dan gerakan menghijaukan Indonesia, dengan cara penggalangan dana untuk penghijauan,” jelas Chasif.

Proses kerja lindungihutan.org cukup sederhana. Lindungihutan.org mengumpulkan dana dari para donatur melalui situs, kemudian dana tersebut digunakan untuk mendanai gerakan penghijauan bersama masyarakat lokal dan volunteer. Masyarakat yang ingin menjadi volunteer bisa mendaftarkan diri secara online melalui situs tersebut.

Chasif beranggapan, ada tiga unsur yang perlu menjadi perhatian dalam melindungi hutan, yaitu hutan itu sendiri, masyarakat di sekitar hutan, dan masyarakat yang jauh dari hutan. Hutan sendiri mengalami masalah bisa karena alam atau ulah manusia. Di Semarang, hutan magrove rusak karena abrasi pantai dan juga ketidak-peduliaan masyarakat sekitar untuk merawat hutan mangrove yang sudah ada. Sementara, orang yang jauh dari area hutan seringkali tidak mengetahui informasi mengenai kerusakan hutan, akibatnya mereka tidak bisa membantu.

Volunteer lindungihutan.org, Bambang Subeno menambahkan, lindungihutan.org merupakan aplikasi yang sangat memudahkan kita untuk kontribusi terhadap masalah lingkungan. “Dengan website ini, masyarakat bisa mengetahui langsung kontribusinya, tidak hanya penanaman, tetapi kita bisa memantau hasil faktor emisi yang dapat dihasilkan dari kegiatan lindungihutan.org,” katanya.

Bambang berharap, Pemerintah dapat menggunakan website tersebut sebagai salah satu rujukan saat mengadakan kegiatan penanaman hutan. Selain informasi bisa tersebar luas, lindungi hutan juga transparan dalam melaporkan kegiatannya. Sedangkan untuk pengembangan lindungihutan.org, Bambang menyarankan agar tim lindungihutan.org bisa menambahkan fitur bagi pengguna untuk membuat even sendiri.

“Dengan adanya website ini, masyarakat bisa terkoneksi langsung terhadap permasalahan di hutan sambil memikirkan solusinya, di mana saja dan kapan saja,” imbuh Bambang.

Tim lindungihutan.org sendiri berharap lindungihutan.org bisa hadir di tiap daerah, dan bisa menjadi platform yang dikenal secara nasional untuk penggalangan dana, khususnya untuk masalah hutan.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Source: CendanaNews

Komentar