Mendikbud Minta Trauma Korban Tawuran Cepat Ditangani

0
15

KAMIS, 4 MEI 2017

SOLO — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhajir Efendy mengunjungi siswa SMA Negeri 1 Klaten, yang menjadi korban tawuran pelajar saat lulusan SMA, Selasa (2/5) lalu. Mendikbud  akan memberikan catatan merah bagi sekolah yang siswanya terlibat tindakan kekerasan yang menyebabkan sejumlah siswa di Klaten, Jawa Tengah, mengalami luka-luka yang cukup serius.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Efendy.

“Saya ingin melihat dengan mata saya sendiri.  Apa benar yang dimuat di media sosial sejak tadi malam sampai banyak ada korban,” ucap Efendy di sela kunjungannya, Kamis (4/5/2017).

Diakui Mendikbud, informasi  yang menyebar di media sosial terkait insiden di Klaten, hingga menyebutkan adanya 18 korban meninggal dunia sangat tidak benar. Menurut Muhajir, informasi tersebut  sengaja digulirkan untuk membuat masyarakat resah. Tak hanya jumlah korban, Mendikbud juga sempat mengecek sekolah yang dikabarkan ikut terlibat dalam tawuran pelajar tersebut. “Saya tadi juga sudah ke sekolah-sekolah yang konon katanya siswanya terlibat.  Tapi nyatanya tidak begitu banyak seperti yang di media sosial,” lanjutnya.

Adanya kejadian yang mengakibatkan siswa SMA 1 Klaten terluka akibat pengeroyokan saat konvoi lulusan, Mendikbud mengaku ikut menyesalkan kejadian tersebut. Pemerintah, kata dia, juga ikut prihatin dengan apa yang menimpa sejumlah siswa hingga harus dilarikan ke rumah sakit. “Mudah-mudahan para siswa ini segera sembuh dan efek traumanya bisa ditanggulangi. Bagaimanapun kejadian itu mengakibatkan efek traumatis bagi siswa,” tambah Efendy.

Masa selesai sekolah, imbuh Mendikbud, merupakan masa yang kritis bagi siswa. Sebab, masa lulusan tersebut menjadi massa transisi, anak-anak yang seringkali disibukkan dengan pelajaran di sekolah  menjadi tidak ada kegiatan yang mendukung. Kondisi tersebut yang mendorong siswa terlibat dalam kegiatan yang kurang produktif.  Seperti kongkow-kongkow, konvoi, vandalisme, dan kegiatan yang mengakibatkan kekacauan lainnya. “Padahal itu kan hanya untuk menunjukkan gagah-gahan saja. Massa inilah yang harus diwaspadai, baik oleh keluarga maupun guru agar memberikan pemahaman,” imbuhnya.

Dalam kunjungan ke sejumlah sekolah di Klaten ini, Mendikbud juga meminta informasi langsung kepada siswa yang menjadi korban insiden tersebut.  Rata-rata, siswa SMA Negeri 1 Klaten yang menjadi korban dalam insiden tersebut  tidak mengetahui  penyebabnya. “Saat itu kita baru makan di warung  seberang  jalan depan sekolah. Tiba-tiba  didatangi rombongan konvoi lulusan yang langsung melakukan pengeroyokan,”  papar  Nauval, salah satu siswa yang menjadi korban insiden tersebut.

Mendikbud menengok Nauval, salah satu korban pengeroyokan.

Siswa kelas XI itu mengaku, saat itu ada sekitar 12 rekan yang tengah makan siang. Belasan siswa ini pun langsung berusaha menyelamatkan diri dengan berlari berhamburan. Bagi mereka yang tidak sempat lari menjadi korban pengeroyokan tersebut. “Kecuali yang perempuan, karena saat itu ada teman kita yang perempuan. Mereka tidak memukul siswa cewek,” katanya.

Jurnalis: Harun Alrosid / Editor: Satmoko / Foto:  Harun Alrosid

Source: CendanaNews

Komentar