Tradisi Ruwahan, Momentum Penyucian Diri dan Mengingat Para Leluhur

0
12

MINGGU, 14 MEI 2017

YOGYAKARTA — Beberapa minggu sebelum memasuki bulan puasa atau ramadhan, masyarakat Jawa selalu menggelar tradisi ruwahan atau nyadran. Tradisi yang sudah sejak lama dilakukan secara turun temurun ini, rutin digelar di Bulan Ruwah (penanggalan Jawa) atau Syaban (penanggalan Hijriyyah), dengan berbagai ritual mulai dari bersih desa, ziarah kubur, kenduri, hingga membuat makanan kolak ketan dan apem. 

Apem berukuran diameter 50 cm yang dibuat warga.

Tak terkecuali pada 2017 ini, sejumlah masyarakat di berbagai daerah di Pulau Jawa, menggelar tradisi ruwahan atau nyadran guna menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Salah satunya warga Kampung Tegal Lempuyangan, Bausasran, Danurejan, Yogyakarta. Selain sebagai bentuk penyucian diri dalam menyambut bulan suci, acara ini juga digelar untuk mengingat dan mendoakan para leluhur.

Tokoh kampung Tegal Lempuyangan, Susilo Murtiningsih, mengatakan tradisi ruwahan berasal dari kata “Ruwah ” yang merupakan bulan urutan ke tujuh, dalam kalender penanggalan Jawa. 

Ruwah sendiri memiliki akar kata “arwah”, atau “roh”. Di mana bulan ruwah ini menjadi semacam momentum bagi masyarakat Jawa untuk selalu mengenang, mengingat dan mendoakan para leluhur dan nenek moyang atas semua jasa-jasanya.

Tak heran setiap Ruwah ini, masyarakat Jawa selalu berbobdong-bondong untuk datang ke makam leluhur masing-masing. Tak sekedar membersihkan makam, dan menaburkan bunga dibatas nisan, mereka juga menggelar kenduri untuk mendoakan para leluhur dan nenek moyang mereka.

Selain menjadi momentum untuk mengingat jasa leluhur, tradisi ruwahan juga memiliki makna untuk saling memaafkan. Itulah kenapa kue apem dibuat setiap trsdisi ruwahan digelar. Sebab kue apem ini merupakan semacam simbol rasa saling memaafkan antar semua warga.

“Apem berasal dari kata afuan, yang artinya ampunan, maaf. Pengertiannya bahwa umat Islam harus selalu memohon maaf pada sesama atas setiap kesalahan yang diperbuat. Terutama memohon ampunan kepada Tuhan, yang maha pemaaf lagi maha pemurah. Sehingga ketika memasuki bulan Ramadan kita sudah dalam keadan suci,” katanya.

Sementara itu dijelaskan kata Kolak sendiri berasal dari kata Kholako, atau Kholiq yang artinya menciptakan atau sang Maha pencipta. Pengertiannya bahwa pada bulan Syaban atau Ruwah, umat Islam harus banyak mengingat Tuhan.

Bulan Ruwah atau Syaban dipercayai sebagai bulan di mana Tuhan menurunkan Kodrat lrodat tentang takdir setahun mendatang. Termasuk menentukan kematian manusia.

“Sedangkan Ketan berasal dari kata Khoto’an. Yang artinya suci, putih, bersih. Jadi setelah ingat sang Kholik kemudian memohon ampunan maka kita akan kembali menjadi bersih suci untuk menyambut bulan Ramadan,” katanya.

Gunungan apem sebagao simbol ampunan

 Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana

Source: CendanaNews

Komentar